The liturgy is not only a structuring of human religiosity, it gives form to the Christian mysteries. These mysteries took place in history, in a particular place and time and using particular rites and symbols. The last supper is not just a common, human religious meal, it is the meal the Lord ate with his disciples the night before he suffered. This implies that all Eucharistic celebrations need to be recognizable as such which includes even formal connections and references. (Cardinal Godfried Danneels - Archbishop of Mechelen-Brussels)
Liturgi bukan hanya sebuah tatanan bentuk religiusitas manusia, ia (liturgi) memberikan bentuk pada misteri-misteri ke-Kristen-an. Misteri-misteri ini terjadi dalam sejarah, di tempat dan waktu tertentu, dan menggunakan ritus dan simbol tertentu. Perjamuan terakhir bukan hanya sekedar makanan rohani manusia, ia (perjamuan terakhir) adalah perjamuan dimana Tuhan dan murid-murid-Nya makan pada malam sebelum Ia menderita. Ini berarti, semua perayaan ekaristi harus bisa dikenali sebagaimana mestinya dimana terkandung didalamnya terdapat hubungan-hubungan dan referensi-referensi formal 1
Ada suatu masa dimana kita sebagai umat katolik merasa bingung, terkekang dan bahkan bosan mengapa liturgi selalu dirayakan dengan cara yang itu-itu saja. Bahkan perasaan-perasaan ini terkadang oleh beberapa orang ditindaklanjuti dengan memasukkan unsur-unsur yang menurut mereka akan membuat liturgi menjadi lebih menarik, meriah ataupun ‘sesuai dengan jaman’..suatu keputusan yang terlihat tulus, dengan niat baik akan tetapi kurang bijaksana. Saya akan mulai maksud dari tulisan ini dengan sebuah analogi kehidupan.
Bayi yang baru lahir ke dunia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan untuk melindungi diri dari penyakit, cuaca, atau bagaimana untuk makan, berpakaian, bersikap yang benar. Orang tua-nya lah yang memberikan pengajaran, membawa dia (si bayi) untuk diberi imunisasi dan lain-lain, dan proses agar bayi dapat tumbuh dengan normal dan sempurna tidak semua-nya menyenangkan untuk si bayi, namun pada akhirnya si bayi yang setelah beranjak dewasa perlahan-lahan mengerti maksud orang tua mengajar ini-itu atau memberikan/membiasakan ini-itu kepadanya. Contoh sederhana dari cerita ini adalah seorang anak yang tidak suka minum susu tapi orang tua-nya memaksakan dia untuk minum susu sampai dia berumur 18 thn, ketika dia berumur 18 tahun lebih dia baru menyadari mengapa susu begitu penting bagi pertumbuhannya.
Begitu pula dengan liturgi. Tuhan memberikan sakramen dan liturgi kepada manusia ‘demi keselamatan’ manusia itu sendiri. Puncak dari karya keselamatan manusia tersebut terjadi pada saat penyaliban Yesus Kristus putra Allah yang tunggal. Dengan disalibkannya Yesus Kristus, maka kita manusia dibari pengharapan baru, teladan kasih dan iman dalam Dia. Tujuan dari sakramen ekaristi sendiri adalah mensyukuri karya keselamatan Kristus, menghadirkan kembali pengurbanan-Nya yang membawa keselamatan dan menyatukan diri dalam iman pada-Nya dengan memakan Tubuh dan meminum Darah-Nya, sekaligus juga menyatakan diri sebagai satu keluarga dengan umat lain di seluruh dunia yang lahir dalam 1 iman dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.
Dengan begitu banyak tujuan dan makna teologis dari Perayaan Ekaristi, maka tidak heran begitu banyak aturan-aturan yang mengikatnya, dan aturan ini bersifat formal dan sama di seluruh dunia. Akan tetapi, kita, seperti anak kecil yang belum mengerti akan tujuan baik dari orang tua mencoba mencari akal, agar sesuatu yang ‘tidak menyenangkan’ tersebut menjadi sesuai dengan selera pribadi kita, kadangkala percobaan tersebut tidak banyak mengubah rubrik, akan tetapi akan datang suatu rasa bosan yang sama seperti dulu sehingga mulailah ada inovasi baru lagi di bagian lain dari PE untuk mengatasi rasa bosan ini sampai pada kurun waktu tertentu, dan kemudian ada lagi cara-cara yang lain, sampai akhirnya seluruh makna teologis dari Perayaan Ekaristi hanya tinggal samar-samar atau bahkan tidak terlihat lagi.
Semakin banyak inovasi yang ada dalam perayaan Ekaristi atas nama “menyesuaikan dengan jaman” atau “supaya saya (yang mewakili umat seluruhnya) merasa nyaman berkomunikasi dengan Tuhan” tanpa mengetahui makna Ekaristi dan bagian-bagian yang terkandung dalamnya hanya akan menjadikan liturgi sebagai pertunjukan rohani dan gedung gereja sebagai gedung pertunjukan dimana kita bebas berekspresi dan perasaan kita yang datang lebih diutamakan, puas atau tidak puas? senangkah? Dengan demikian dimana porsi Tuhan?..Apakah saya datang dalam Perayaan Ekaristi untuk saya atau untuk Tuhan? Ataukah untuk saya dan Tuhan? Jika untuk saya dan Tuhan siapakah yang harus diutamakan dalam Perayaan Ekaristi? Saya atau Tuhan? Biarlah itu menjadi perenungan kita masing-masing ...Apakah saya beragama perasaan?semoga tidak.
1 Liturgy After 40 Years - Cardinal Godfried Danneels is Archbishop of Mechelen-Brussels - BostonCollege Canisius Lecture: April 27, 2007
Search Engine Katolik Indonesia bantulah keluarga anda untuk menemukan milis-milis yang sehat dan baik untuk dilihat agar tidak sembarang menemukan milis porno dan yg merusak moral.