Renungan Malam Natal 2005

Kirim Ke Printer E-mail Artikel ini ke Teman



RENUNGAN MALAM NATAL 2005


(Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14)



"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa



Tono dan Tini (nama samaran) sudah kurang lebih satu tahun menikah, membangun keluarga baru, dan belum lama ini dianugerahi anak pertama. Sejak kelahiran anak mereka yang pertama ini baik Tono maupun Tini berubah dan gaya hidup atau cara bertindak. Bagi Tini, misalnya di tengah malam tiba-tiba bayinya menangis dan untuk itu iapu terbangun menghibur dan menimangnya sehingga tertidur lagi. Tangisan, cara hidup sang bayi memang sungguh merubah gaya hidup Tini, antara lain kurang tidur, hidup tidak teratur, namun meskipun demikian ia tidak mengeluh atau mengesah dan juga tidak merasa lelah. Bagi Tono sendiri juga mengalami perubahan: begitu pulang kantor ia cepat-cepat pulang, dan di waktu malam ketika tidur juga mengalami gangguan karena sang bayi yang menangis, dan jika dihitung ia pun juga mengalami kurang tidur. Sama seperti Tini ia tidak mengeluh atau mengesah karena hal itu, melainkan bahagia dan bangga.



Kelahiran seorang anak di dalam keluarga maupun masyarakat memang membawa banyak perubahan. Perubahan yang terjadi pada umumnya mengarah ke lebih bahagia, lebih sejahtera dan lebih bersaudara atau saling mengasihi. Hanya orang sinthing, kurang beriman atau kurang kasih akan menjadi uring-uringan atau permusuhan di antara mereka ketika ada seorang anak manusia lahir di dunia. Kelahiran bayi,. anak manusia sungguh membawa perubahan dan tentu saja yang ideal adalah perubahan atau pembaharuan hidup yang semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Hari ini kita mengenangkan atau merayakan kelahiran seorang bayi istimewa, Yesus Kristus, Penyelamat Dunia; kalahiran atau kedatanganNya di dunia ini menjadi ‘kesukaan besar untuk seluruh bangsa’.



"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10)



Berita atau Kabar Gembira tentang kelahiran Penyelamat Dunia pertama-tama diterima oleh para gembala domba, yang hidup di padang belantara, bukan oleh orang-orang Betlekem, yang tidak sudi memberi penginapan bagi Yosep dan Maria yang sedang mengandung Penyelamat Dunia. Para gembala menjadi simbol atau menggambarkan orang-orang yang mendambakan perubahan hidupnya, terbuka akan segala kesempatan dan kemungkinan, sementara itu orang-orang Betlekem menggambarkan orang yang telah ‘mapan’, tertutup terhadap segala perubahan, kesempatan atau kemungkinan dan dengan demikian mereka kurang peka terhadap suara-suara utusan Allah. Maka dengan kemapanan tersebut orang-orang Betlekem tidak mampu menikmati Warta Gembira atau ‘kesukaan besar’ yang datang dari Allah; sebaliknya para gembalalah yang pertama-tama menerima Warta Gembira itu dan kemudian meneruskannya kepada sanak-saudaranya.



Rasanya jika kita menghendaki menerima Kabar Gembira tersebut perlu meneladan semangat para gembala, yaitu ‘terbuka pada penyelenggaraan Ilahi, terbuka akan aneka macam perubahan, kemungkinan dan kesempatan’. Dan ketika ada perubahan, kesempatan atau kemungkinan baru kita tidak perlu menjadi takut untuk berubah. Eccelsia semper reformanda est = Gereja senantiasa harus diperbaharui, demikian kata pepatah. Siapa itu Gereja? Gereja tidak lain adalah kita semua yang telah mengimani Yesus Kristus dan secara formal/liturgis telah menerima Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma dan Ekaristi/Komuni Kudus). Untuk itu memang dibutuhkan keutamaan kerendahan hati, entah meneladan para gembala yang dengan kebesaran hati dan penyerahan diri menerima perlakuan dari sesamanya atau meneladan Dia, yang adalah Allah, yang dengan rendah hati telah menjadi Manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Dengan dan dalam kerendahan hati kita dapat berubah atau memperbaharui diri; secara konkret dalam hidup bersama, bekerja atau belajar kita perlu rendah hati, dan dengan demikian kita siap untuk menerima ‘pemberitaan-pemberitaan atau warta-warta baru’ yang datang dari Allah melalui sesama dan kegiatan atau kesibukan kita sehari-hari. Jika, entah dalam hidup bersama, bekerja atau belajar, kita tidak rendah hati maka kita tidak mungkin memeperoleh ‘hal-hal baru’ ( keterampilan, pengetahuan, kenalan, sahabat dst..) yang kita butuhkan untuk hidup berbahagia, sukacita atau selamat-sejahtera. Dengan kata lain: meneladan semangat para gembala berarti kita siap dididik atau dibina terus menerus (ongoing education, ongoing formation) atau berjiwa magis (berkehendak untuk melebihi diri sendiri terus menerus).



Ongoing formation atau berjiwa magis atau mendidik diri terus menerus hemat saya perlu dijiwai oleh kegembiraan atau sukacita. Dalam kegembiraan atau sukacita berarti metabolisme darah dan syaraf berfungsi secara prima yang berdampak membuat otak encer dan hati segar berbinar-binar serta tubuh sehat bugar akan membuat orang yang bersangkutan lancar dan tegar dalam pembelaran atau pendidikan. Sebaliknya jika orang dalam keadaan sedih dan putus asa maka ia akan mengalami kesulitan dalam pertumbuhan dan perkembangan, dan penampilannyapun tidak menarik untuk dilihat atau dinikmati. Orang yang gembira dan ceria senantiasa menarik bagi banyak orang, tua, muda, remaja atau anak-anak; coba lihat ‘orang gila yang senantiasa nampak ceria dan senyum terus’, bukankah ia menarik dan membuat yang lain terhibur, gemibra juga. Tentu saja keceriaan dan senyum kita bukan karena sakit, tetapi karena kesetiaan dan kemurahan hati Allah, yang telah berkenan hadir di tengah-tengah menjadi Manusia, terhadap kita orang lemah dan berdosa: Emmanuel, Allah berserta kita. “Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan “(Yes 9:2)



Dalam sorak-sorai, kegembiraan atau sukacita itulah kita tumbuh berkembang atau berubah. Perubahan ke arah mana yang kita dambakan? Kutipan surat Paulus kepada Titus di bawah ini kiranya dapat menjadi inspirasi atau motivasi perubahan.



“Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit 2:12)



Kutipan dari surat Paulus kepada Titus di atas ini kiranya sejiwa dengan peristiwa yang belum lama ini berlalu, yaitu SAGKI 2005, Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005, yang diselenggarakan tgl 16 s/d 20 Nopember 2005. SAGKI 2005 ini menindak-lanjuti atau menanggapi Nota Pastoral KWI 2004, yang antara lain berisi suatu ajakan untuk mengadakan gerakan habitus baru. SAGKI 2005 menghasilkan sebuah dokumen yang berjudul “BANGKIT DAN BERGERAKLAH!” : ADA 17 issue atau masalah yang digeluti dan diperdalam serta kemudian ditemukan pintu masuk untuk menghadapi masalah-masalah atau issue-issue tersebut. Di bawah ini kami kutipkan ke 17 masalah/issue serta pintu masuk yang dibicarakan, didiskusikan dan diperdalam oleh para peserta SAGKI 2005, yang diharapkan menjadi acuan gerakan konkret bagi kita semua dalam hidup beriman, berbangsa, bermasyakat dan bernegara di tanah air tercinta ini.


















































































No.


Kelompok masalah/issue


Pintu masuk





1


Keretakan hidup Berbangsa dan Formalisme Agama


Penegasan Pancasila dalam kehidupan berbangsa


2


Otonomi Daerah dan masyarakat adat


Mengatasi apatisme masyarakat warga


3


Korupsi: masalah budaya


Pendidikan nilai


4


Korupsi: masalah lemahnya mekanisme kontrol


Meningkatkan fungsi kontrol dan memperbaiki sistem hukum


5


Kemiskinan


Budaya menabung


6


Pengangguran


Pendidikan manusia seutuhnya. Pendidikan yang menekankan aspek produktivitas, kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan kemandirian yang dijiwai iman, cinta kasih, kebebasan dan keteladanan.


7


Kriminalitas/premanisme


Meningkatkan moralitas kepemimpinan yang merosot


8


Perburuhan


Mengatasi kehidupan buruh yang menderita dan tertindas.Mengontrol kebijakan perburuhan dan industri yang tidak pro-buruh dan kurang mendukung iklim usaha yang kondusif dan adil.


9


Pertanian


Pemberdayaan petani


10


Lingkungan hidup: berkaitan dengan hutan


Budaya masyarakat adat dan kearifan lokal (masyarakat asli/pemilik hutan sebagai komunitas)


11


Lingkungan hidup: berkaitan dengan non-hutan


Mengatasi polusi (tanah, udara, dan air)


12


Pendidikan formal: pendidikan dasar-menengah


Sumber Daya Manusia


13


Pendidikan formal: pendidikan tinggi


Undang-undang dan sistem pendidikan nasional


14


Pendidikan non-formal: pendidikan (dalam) keluarga


Pendampingan keluarga


15


Pendidikan non-formal: kaum muda


Spiritualitas dan karakter kristiani Orang Muda Katolik (OMK)


16


Kesehatan


Meningkatkan mutu dan jumlah SDM dalam bidang kesehatan


17


Kekerasan dalam rumah tangga dan ketidaksetaraan gender


Konstruksi sosial gender



Dari ke 17 issue dan pintu masuk di atas, kiranya kita masing-masing, entah secara piribadi atau kelompok di dalam keluarga, kantor/tempat kerja atau masyarakat, dapat mimlih issue serta pintu masuk mana yang sesuai dengan pekerjaan,kesibukan, situasi dan kondisi, keterampilan atau kemampuan, kesempatan atau kemungkinan yang ada.



Sebagaimana Allah telah berkenan menjadi manusia seperti kita, melangkah secara nyata dan hadir dalam dunia dan umat manusia, itulah salah satu makna atau arti Natal/kelahiran Penyelamat Dunia, “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit 2:11), SAGKI 2005 pun mengajak kita untuk melangkah atau bertindak secara konkrit berupa gerakan (bukan gerak-gerik): gerakan berarti tindakan terus menerus, sedangkan garak-gerik hanya sesaat atau kejutan sementara saja.



Sebagai contoh pilihan masalah dan pintu masuk saya ajukan masalah ‘korupsi dan pendidikan’ dengan pintu masuk ‘pendidikan nilai dan sumber daya manusia’. Mengapa saya ambil contoh tersebut? Rasanya karena rendahnya mutu pendidikan di negara kita serta tindakan korupsi boleh dikatakan menjadi akar atau penyebab hidup kita bersama atau kebersamaan kita kurang damai dan kurang bersaudara, tetapi sarat dengan kecurigaan, permusuhan, pertengkaran, pelecehan terhadap harkat martabat manusia dst.. “Pendidikan yang menekankan aspek produktivitas, kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan kemandirian yang dijiwai iman, cinta kasih, kebebasan dan keteladanan “ , demikian bunyi pintu masuk dalam rangka usaha mengatasi pengangguran, yang rasanya terkait dengan pendidikan nilai dan sumber daya manusia. Masalah pendidikan rasanya menjadi keprihatinan kita semua, entah pendidikan di dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Yang perlu ditegaskan disini hemat saya adalah ‘pendidikan yang dijiwai iman, cintakasih, kebebasan dan keteladanan’:


· Pendidikan dijiwai oleh iman berarti melibatkan atau mengakui keterlibatan Allah/penyelenggaraan ilahi dalam proses pendidikan, karena “Ia mendidik kita”, demikian kata Paulus kepada Titus. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1Kor 3:6-7), demikian kata Paulus kepada umat di Korintus. Anak adalah anugerah atau kado dari Allah, maka harus dididik, dibesarkan, didampingi dengan cara Allah. Secara konkret hemat saya dalam mendampingi, mendidik anak kita tidak boleh lepas dari hidup doa: berdoa bagi diri sendiri agar layak ‘menanam dan menyiram anak’, berdoa bagi anak-anak agar mereka sadar dan menghayati pendampingan atau penyertaan Allah di dalam hidup dan kesibukannya setiap hari , baik dalam belajar atau hidup bersama di sekolah maupun di rumah dan masyarakat.


· Pendidikan yang dijiwai oleh cintakasih dan kebebasan. Ingatlah bahwa setiap manusia, kita semua ‘diadakan, dikandung, dilahirkan, dibesarkan’ dalam dan karena cintakasih dan kebebasan. Cintakasih itu bebas alias dibatasi oleh kebebasan, tanpa batas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Hakekat cintakasih sejati adalah hormat terhadap harkat martabat manusia atau tidak melecehkan harkat manusia atau “ sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain , tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran., menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1Kor 13:4-7)


· Pendidikan dijiwai oleh keteladanan. Keteladanan kiranya merupakan salah satu bentuk krisis yang masih memprihatinkan pada masa kini. Teladan berarti dari atas ke bawah: dari orangtua ke anak-anak, dari kakak ke adik, dari atasan ke bawahan, dari pimpinan ke anggota dst… Teladan dalam hal apa? Hemat saja keteladanan dalam hal cintakasih sebagaimana kami kutipkan dari surat Paulus kepada umat di Korintus di atas layak kita jadikan pegangan atau pedoman hidup kita.


Hemat kami jika pelaksanaan pendidikan, entah di dalam keluarga, sekolah atau masyarakat dapat terjadi sebagaimana kami coba telaah secara singkat di atas, damai di bumi akan terwujud, “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Luk 2: 14) menjadi nyata.



Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! .” (Mzm 91:1)


Merry Christmas 2005 and Happy New Year 2006


Ign.Sumarya SJ (email:

marya@kawali.org atau

marya@provindo.org )


Jika berminat lihat renungan saya yang lain, silahkan buka: www.ekaristi.org atau www.indocell.net/yesaya atau http://cicspj.org/index.php.

Edisi 08Feb2006 oleh Tony

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda


Iklan Oleh SM

Halaman baca dan downloan buk elektronik Katolik

Halaman E-Books SM



Ekaristi Dot Org Forum Katolik Terpopuler

Ekaristi

Renungan Harian, Homili, Les Alkitab Alkitab Online, Dok Vat II, Forum Diskusi dengan Moderator dan Belajar Bersama Apologis



Media Katolik

Media Katolik Indonesia

 Search Engine Katolik Indonesia bantulah keluarga anda untuk menemukan milis-milis yang sehat dan baik untuk dilihat agar tidak sembarang menemukan milis porno dan yg merusak moral.

Iklan Oleh SM


 

© copyrights 2005 Santo Mikael | Login