"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang
berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk15:34),
demikian seruan nyaring Yesus ketika akan wafat. Yesus adalah Tuhan dan ketika
akan wafat Ia ditinggalkan oleh sahabat-sahabatNya, para rasul, yang selama
kurang lebih tiga tahun menyertaiNya. Ketika Yesus ditangkap oleh musuh-musuhNya
dan kemudian digiring ke puncak Golgota untuk disalibkan para sahabatNya
meninggalkan Dia, bersembunyi ketakutan dan Yesus sendirian saja menghadapi
derita dan kematian, akhir hidupNya sebagai manusia di dunia ini. Maka kiranya
wajar sebagai manusia ketika berada di puncak penderitaan serta menjelang
wafatNya Ia merasa ditinggalkan oleh semuanya. Memang menghadapi kematian atau
menjelang dipanggil Tuhan pada umumnya orang gelisah dan takut dan dalam
kegelisahan serta ketakutan dapat muncul dua kemungkinan sebagaimana dialami
oleh dua penjahat yang disalibkan bersama Dia. Menjelang kematian penjahat yang
satu marah-marah serta mengejek Yesus seperti yang dilakukan oleh musuh-musuhNya
dengan berkata:"Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan
kami!"(Luk23:39), dan penjahat yang lain dengan rendah hati dan lemah
lembut penuh dengan penyerahan diri berkata :"Yesus, ingatlah akan aku,
apabila Engkau datang sebagai Raja."(Luk23:42). Memberontak atau
menyerahkan diri itulah kemungkinan sikap hati mereka yang akan dipanggil Tuhan,
menjelang kematiannya. Sebagai orang beriman kiranya kita semua berharap, entah
kita sendiri atau saudara kita, ketika akan dipanggil Tuhan bersikap lemah
lembut dan rendah hati penuh penyerahan diri seperti penjahat yang bertobat :
“Yesus, ingatlah akan aku, apabil Engkau datang sebagai Raja” . Agar dapat terjadi demikian tentu saja
kita sendiri harus senantiasa siap-sedia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan dan
kepada saudara kita yang akan dipanggil Tuhan kita dampingi dan temani, jangan
ditinggalkan sendirian. Dan ketika yang bersangkutan telah dipanggil Tuhan
pendampingan kemudian diarakan bagi mereka yang ditinggalkan.
Mendampingi yang akan mati/dipanggil Tuhan
Sebagaimana terjadi dalam diri atau dialami oleh Yesus,
orang yang mau segera mati atau dipanggil Tuhan pada umumnya gelisah.
Kegelisahan tersebut dapat begitu hebat sampai merepotkan mereka yang menunggui
(dalam bahasa Jawa disebut ‘mecati’) , dimana gerakan kaki, tangan dan
kepala kuat luar biasa melebihi ketika ia masih hidup sehat. Ketika yang
menunggui atau menemani tak kuasa mengatur dan menguasai gerakannya yang luar
biasa tersebut maka ketika yang bersangkutan telah mati atau menjadi jenazah
masih merepotkan juga antara lain bagaimana mengatur kaki, tangan dan mulut agar
yang bersangkutan nampak sedang tidur tenang. Sebaliknya ada orang yang mau mati
kegelisahannya kurang begitu nampak dan yang demikian ini pada umumnya mudah
didampingi juga; ketika yang bersangkutan telah mati atau menjadi jenazah
mungkin nampak lebih cantik atau cakep daripada sebelumnya.
Mendampingi yang mau mati atau dipanggil Tuhan atau
berpastoral bagi sesama yang berada di batas kehidupan memang cukup penting dan
sering dilupakan. Berpastoral bagi atau mendampingi sesama yang berada di batas
kehidupan rasanya harus penuh kegembiraan dan senyuman, tentu saja tidak dengan
hura-hura melainkan dengan lemah lembut dan rendah hati. Jauhkan penampilan atau
kehadiran diri yang nampak sedih dan murung. Mengapa mendampingi mereka yang
berada di batas kehidupan harus gembira? Sebagai orang beriman kiranya kita
percaya bahwa mati atau dipanggil Tuhan berarti dianugerahi kemurahan hati untuk
mendiami rumah masa depan bersama Tuhan. Iman yang demikian ini perlu dibisikkan
pada mereka yang berada di batas kehidupan atau segera dipanggil Tuhan.
“Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”(Rm14:8), demikian kesakian iman Paulus yang sekiranya juga menjadi iman
kepercayaan kita. Hidup kita memang milik Tuhan karena kita diciptakan oleh
Tuhan dan kita semua kiranya tidak menghendaki untuk hidup. Masing-masing dari
kita diciptakan oleh Tuhan dengan bantuan dan kerjasama orangtua kita
masing-masing. Semua kita dikandung dalam kehangatan dan kemesraan di rahim ibu,
kemudian dilahirkan, disusui, diberi makan, dimandikan, ditidurkan, digendong,
dididik dan diajar entah di rumah atau di sekolah, selesai belajar diberi
pekerjaan dan digaji atau diberi imbal jasa, ditegor, dipuji, dimarahi,
dihormati …dst… akhirnya mati alias dipanggil Tuhan. Kematian juga bukan menjadi
kehendak atau kita keinginan kita melainkan kehendak atau anugerah Tuhan. Mati
atau dipanggil Tuhan berarti dianugerahi hidup abadi yang dijanjikan, hidup
mulia dan bahagia bersama Tuhan dalam keabadian di sorga. Keyakinan iman macam
itu kiranya layak menjadi milik kita dan kita hayati serta kita sampaikan kepada
sesama kita yang segera dipanggil Tuhan. Dengan demikian kepada sesama atau
saudara kita yang dipanggil Tuhan kita ucapkan dengan penuh syukur: “Selamat
jalan memasuki rumah idaman dan beristirahat bersama Tuhan”.
Mendampingi
mereka/keluarga yang ditinggalkan.
Mendampingi keluarga
atau sanak-kerabat yang ditinggalkan juga sangat penting, entah pada saat-saat
menjelang dan setelah kematian saudaranya. Pada saat-saat menjelang kematian
saudaranya kiranya cara pendampingan tidak berbeda atau mirip dengan mendampingi
mereka yang akan mati atau dipanggil oleh Tuhan. Mendampingi saudara/keluarga
yang telah ditinggalkan, segera setelah kematian saudaranya juga sangat penting,
antara lain bagaimana mengurus pemakaman saudaranya yang baru saja dipanggil
Tuhan.
Menjelang kamatian
saudara atau anggota keluarganya mungkin orang sudah mempersiapkan diri segala
macam untuk upacara pemakaman, tetapi kiranya kebanyakan orang kurang siap
karena kematian saudara atau anggotanya keluarganya datang dengan tiba-tiba atau
selama mendampingi mereka yang sedang sakit tidak berharap yang bersangkutan
segera dipanggil Tuhan. Di beberapa rumah sakit di Jakarta, sejauh saya dengar
dari sana-sini, nampaknya yang lebih siap untuk upacara pemakaman dengan segala
keperluannya antara lain para ‘pegawai’ atau ‘makelar’ rumah duka tertentu yang
memang ditugaskan sebagai ‘petugas marketing’. Mereka ini sering ‘menempel’ pada
anggota keluarga yang salah satu saudaranya atau anggota mendekati dipanggil
Tuhan. Jika anggota keluarga tidak didampingi dalam rangka mempersiapkan upacara
pemakaman, kiranya mereka akan menjadi ‘sasaran empuk’ dari para ‘petugas marketing’ ini. Mereka ini
adalah ‘petugas’ dari rumah duka yang memang sungguh bersifat komersial di kota
metropolitan Jakarta ini.
Bagaimana strategi
marketing atau cara-cara mereka mencari ‘konsumen’ rumah duka? Ada rumor yang
mengatakan bahwa ‘orang mati tidak dapat menawar’; memang kalau sudah mati
menjadi mayat tidak dapat berbuat apa-apa. Rasanya yang tidak dapat atau tidak
boleh menawar ini tidak hanya yang telah dipanggil Tuhan tetapi juga para
anggota keluarga atau sanak-saudaranya. Rumor inilah kiranya yang menjadi
‘senjata’ para petugas marketing rumah duka. Pendampingan anggota keluarga dari
yang telah dipanggil Tuhan ini perlu, jika tidak didampingi mereka dapat menjadi
‘korban’ dari sindikat penjualan peti jenazah dan mereka yang beemental cari
kesempatan dalam kesempitan (dalam bahasa Jawa : “nulung menthung’ = menolong
dengan memukul).
Info dari sana-sini dan
juga dari ‘konsumen’ beberapa rumah duka, antara lain dapat saya gambarkan
bagaimana para ‘petugas marketing’ rumah duka tersebut beraksi serta jeratan
dari rumah duka terhadap keluarga dimana salah satu anggotanya disemayamkan di
rumah duka tersebut:
A. . Jika salah
satu anggota keluarga anda dipanggil Tuhan, entah suami, isteri atau anak,
kiranya pada saat setelah anggota keluarga anda dipanggil Tuhan anda pasti dalam
kondisi sedih, murung dan bingung. Dalam kondisi demikian ada orang yang datang
untuk menawarkan ‘jasa baik’, yaitu ingin menolong upacara pemakaman sebaik
mungkin. Pertama-tama mereka akan mengucapkan simpati ikut berduka cita,
kemudian bertanya apakah sudah ada yang mengurus upacara pemakaman dan jika
belum ada yang mengurus maka mereka siap sedia untuk menolongnya. Tawaran yang
simpatik tersebut pasti akan ‘menaklukkan’ anda yang sedang berduka karena
kematian saudara anda, dan dengan penuh kepercayaan tanpa pikir panjang (yang
tidak mungkin dilakukan) anda segera menerima tawaran tersebut. Para ‘petugas
marketing’ akan menawarkan kepada anda sesuatu yang nampak simpatik, antara
lain/misalnya: harga peti Rp.15.000.000 atau Rp.20.000.000 dilengkapi dengan
‘hadiah’ gratis mobil jenasah sampai selesai upacara pemakaman dst.. Hendaknya
saudara-saudari sekalian memahami ini: mereka telah menaikkan harga peti
berlipat ganda , jika tidak percaya kepada anda yang tinggal di Jakarta silahkan
dicek atau bandingkan harga peti di rumah duka dengan melihat data yang ada di
rumah duka St.Carolus Jakarta. Saya pernah mendengar peti di rumah duka
St.Carolus Jakarta dihargai Rp.8.000.000,- ternyata di rumah duka lain dihargai
lebih dari Rp.15.000.000,-. Perihal harga peti ini ada info yang menarik:
·
Sebut saja namanya Parta (samaran). Anggota keluarga Parta
dipanggil Tuhan dan atas inisiatif beberapa orang jenasah di rumah duka “Yudas”
(samaran). Salah satu anggota keluarga Parta setelah mendengar harga peti di
rumah duka “Yudas” tersebut dirasa terlalu mahal, maka ia minta kepada rumah
duka yang bersangkutan untuk membawa peti sendiri alias membeli peti dari luar
rumah duka tersebut yang lebih
murah (maklum rumah duka “Yudas” hanya menawarkan peti yang berharga
tinggi). Ketika ia menyampaikan permohonan tersebut memperoleh jawaban dari
petugas rumah duka “Yudas” yang cukup menyakitkan hati :” Maaf Pak, apakah
bapak jika masuk ke rumah makan atau restoran juga membawa makanan sendiri?“.
Dengan kecewa keluarga Parta mendengar jawaban tersebut dan harus membayar
peti yang mahal harganya.
·
Pastor “Petrus’ (samaran) dirawat di RS St.Carolus – Jakarta dan
ketika dipanggil Tuhan segala macam kebutuhan pemakaman dilayani oleh rumah duka
St.Carolus juga, dengan kata lain jenasahnya dimakamkan di rumah duka
St.Carolus. Peti jenazah disediakan
oleh rumah duka St.Carolus. Ketika jenazah pastor Petrus pada malam harinya
disemayamkan di gereja tempat pastor tersebut berkarya, beberapa umat
rasan-rasan atau ngrumpi: “Wah peti pastor Petrus bagus, pasti mahal
harganya, paling tidak Rp.15.000.000,-“. Mendengar hal ini salah seorang
dari mereka, yang tahu atau kenal rumah duka St.Carolus berkata: “Ah tidak
semahal itu, jika tidak percaya nanti lihat saja kwitansinya!”. Dan memang setelah dicek di kwitansi
harga peti tidak Rp.15.000.000,- melainkan Rp.8.000.000,-
Selain harga peti juga ada
info menarik, yaitu perihal ‘karangan bunga’ sebagai partisipasi ungkapan
dukacita. Ada rumah duka yang menolak pengiriman ‘karangan bunga’ dari luar
rumah duka yang bersangkutan, dengan kata lain jika hendak mengirimkan ‘karangan
bunga’ hendaknya pesan pada rumah duka yang bersangkutan, di mana jenazah
disemayamkan. Katanya boleh mengirimkan ‘karangan bunga’ dari luar tetapi ada
tambahan beaya administrasi yang tidak kecil jumlahnya. Dengan kata lain
berbagai kebutuhan perlengkapan atau untuk memberi simpati bagi yang berduka
harus diusahakan melalui rumah duka yang bersangkutan.
Bagaimana atau macam apa
pelayanan yang dihaturkan dari rumah duka St.Carolus – Jakarta kepada mereka
yang saudara atau anggota keluarganya meninggal dunia dan disemayamkan di rumah
duka St.Carolus?
1) Pada
prinsipnya rumah duka St.Carolus – Jakarta hanya menyediakan tempat alias
ruangan, dan maklum ruangan tidak berudara dingin alias tidak pakai AC, agar
murah dan dapat terjangkau oleh mereka yang miskin dan berkekurangan. Ada orang
yang mengeluh perihal ini, katanya layat di rumah duka St.Carolus panas gerah
dst.. Kepada mereka yang mengeluh macam itu hendaknya merenungkan pertanyaan ini
:”Dimana di kampung atau kota tempat tinggal masing-masing ketika ada
pelayatan maka para pelayat memperoleh tempat nikmat? Bukankah mereka
duduk-duduk di jalanan atau dibawah tenda yang terasa panas juga?”. Ingatlah
ketika Yesus wafat Dia berada di puncak bukit Golgota dan mereka yang datang
melayat berada di ruang terbuka beratapkan langit yang luas!
2) Selain
ruangan rumah duka St.Carolus juga menyediakan paket pelayanan yang ditawarkan
alias dapat dipilih dan dipakai atau tidak, antara lain (data pelayanan saat
ini)
a.
Ruang + 40 kursi +lilin = Rp.280.000,- /hari/tanggal
Kapel + 80 kursi + lilin
= Rp.530.000,-/hari/tanggal
b.
Dekorasi ruang (dapat dicarikan oleh rumah duka dengan harga sesuai
dengan pasar)
c.
Mobil jenasah ke TPU/krematorium (DKI)
: Rp. 350.000,-
d. Mobil
jenasah ke TPU/krematorium (Depok, Bekasi, Tangerang)
; Rp. 450.000,-
e.
Mobil jenasah ke TPU Bogor dan Karawang
: Rp. 550.000,-
f.
Perawatan jenasah (perempuan)
: Rp. 250.000,-
g.
Perawatan jenasah (laki-laki)
: Rp. 200.000,-
h.
Pengawetan jenasah (di-formalin)
: Rp. 550.000,-
i.
Vooreider/pengawal polisi
: Rp. 400.000,-
j.
2 vas meja, corsase 12 pc, bunga salib dendra, bunga tabur 3 krj
: Rp. 635.000,-
k. Kartu
ucapan buku tamu, aqua, tissue, kacang, piring, kunci kotak
,
spidol, white board, eau de cologne, kopi
: Rp. 239.000,-
l.
Administrasi
: Rp. 55.000,-
m. PETI JENASAH
(lihat gambar terlampir)
Aneka pelayanan yang
ditawarkan ini juga dapat diusahakan sendiri oleh keluarga atau sanak –kerabat
dari mereka yang meninggal dunia dan disemayamkan di rumah duka St.Carolus.
Rumah duka St.Carolus
juga melayani alias dapat membantu mengusahakan angkutan seperti bus atau
pesawat terbang bagi mereka yang menghendakinya
3)
Catatan kecil namun sering meresahkan adalah masalah parkir. Rumah
duka St.Carolus memang tidak memiliki tempat/lahan parkir yang memadai. Namun
anda kiranya juga dapat memarkir kendaraan anda di lahan parkir rumah sakit
St.Carolus, dan kemudian dari lahan parkir tersebut berjalan kaki ke rumah duka.
Jalan kaki tidak jauh dan sehat, sekaligus berolahraga.
B. Selain
pendampingan dalam hal duniawi atau aneka kebutuhan untuk upacara pemakaman
kiranya juga perlu diusahakan pendampingan pastoral bagi keluarga atau saudara
yang ditinggalkan atau pendampingan spiritual. Pendampingan ini mungkin dapat
disampaikan secara informal artinya omong-omong biasa tetapi juga secara formal alias dalam atau melalui
sambutan, kotbah dalam upacara atau ibadat. Sebagai umat Kristiani, yang percaya
kepada Yesus Kristus, pertama-tama apa yang saya coba uraikan secara sederhana
di atas, kutipan dari surat Roma, dapat disampaikan dan mungkin juga dapat
ditambahkan renungan dari Warta Gembira
ini: “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi
Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus
Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan
memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam
mereka dan Aku di dalam mereka."
(Yoh17:25-26)
Kutipan di atas adalah
doa Yesus kepada Bapa di sorga bagi murid-muridNya, bagi kita semua. Doa
tersebut kiranya juga menjadi doa dari mereka/saudara kita yang telah dipanggil
Tuhan, yang telah hidup mulia bersama Yesus di sorga. Hidup bahagia mulia
bersama Yesus di sorga terjadi bukan karena usaha, jerih payah atau keringat
manusia, melainkan semata-mata merupakan anugerah Allah. Dari mana dasar iman
kepercayaan ini? Mengenangkan atau mendoakan mereka yang telah meninggal
hendaknya dikenangkan juga ketika Yesus wafat di puncak kayu salib. Bukankah ada
dua penjahat yang disalibkan bersamaNya dan ada satu penjahat yang bertobat
dengan mohon kepada Yesus : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang
sebagai Raja.” (Luk23:42). Dan Yesuspun segera menanggapi dengan berkata
kepadanya : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada
bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk23:43). Keduanya langsung
dipanggil oleh Tuhan Allah, hidup bahagia mulia di sorga. Secara logis dan
matematis kita dapat berkata: “Jika penjahat sebesar itu bertobat dan
memperoleh kasih pengampunan dan kemurahan hati Allah, apalagi saudara kita yang
tidak sejahat itu”. Dengan kata lain kita beriman bahwa saudara kita yang
dipanggil Tuhan telah hidup bahagia mulia di sorga. Memang kita tidak tahu
persis apa yang dikatakan oleh saudara kita ketika berhadapan secara pribadi
dengan Tuhan yang memanggil , pada saat-saat terakhir hidupnya, tetapi sebagai
orang beriman kita percaya saudara kita pasti berdoa dengan rendah hati dan
penyerahan diri seperti penjahat
tersebut : “Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai
Raja”
Jika kita beriman bahwa
saudara kita yang dipanggil Tuhan telah hidup mulia bersama Yesus di sorga, maka
hemat saya kita tidak hanya mendoakan saudara kita tersebut sebaliknya
sebenarnya saudara kita yang telah dipanggil Tuhan senantiasa mendoakan kita
semua yang ditinggalkan. Doa saudara kita tersebut mirip atau meneladan doa
Yesus sebagaimana saya kutipkan di atas. Maka saudara-saudari kita yang telah
dipanggil Tuhan atau meninggal dunia senantiasa berdoa bagi kita semua kurang
lebih seperti ini:
“Bapa yang adil, orang yang bermental duniawi atau
materialistis pasti tidak mengenal Engkau, sebagai Pencipta dan Penyelamat.
Tetapi mereka tahu bahwa Engkau telah menciptakan aku untuk hadir di antara
mereka, hidup bersama mereka dan berusaha melayani mereka. Aku dengan segala
kelemahan dan kekuranganku telah berupaya untuk mengasihi mereka sebagaimana Kau
ajarkan kepadaku dan Kau laksanakan
padaku. Aku juga akan terus tetap mengasihi mereka dengan mendoakannya agar
mereka juga mengetahui dan menghayati kasihMu. Aku tidak pernah meninggalkan
mereka, karena kasihku kepada mereka tetap hidup dan mereka nikmati. Kami
berharap semoga keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang telah
kuhayati dan kuteruskan kepada mereka tidak hilang musnah tanpa bekas”.
Terhadap mereka yang
telah meninggal dunia kita tidak pernah dipisahkan , melainkan semakin disatukan
dan didekatkan, yaitu jika kita senantiasa berada dalam Tuhan, menjadi
pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan, antara lain hidup saling mengasihi sampai
mati.
Jakarta, 28 November
2006
Rm. Ignatius Sumarya, SJ

