Kisah ini adalah sebuah penggalan kisah nyata dari perjalanan Romo Anton De Britto yang baru saja berpulang belum lama ini. Romo yang dikenal membawakan homili homilinya yang menarik, dan dekat dengan umat. Kisah yang menarik, yang bisa dijadikan sebuah renungan sederhana bagi kita yang membacanya.
Mencari "Jembatan" Yesus
Sopir Paroki Santa Maria Blitar adalah Pak Marno (Y. Soemarno).
Dialah yang menghantarkan saya ke Stasi Wonodadi atau stasi-stasi lain setiap kali saya ingin mempersembahkan Misa ataupun keperluan lain di sana. Dalam perjalanan ke stasi-stasi itu, ia suka berceritera macam-macam, baik mengenai umat Katolik di sekitarnya maupun
mengenai dirinya sendiri. Ceriteranya yang paling menarik justru kisahmengenai panggilannya sendiri menjadi seorang Katolik.
Karena menarik itulah, saya juga ingin mengisahkan kembali dalam
lembaran ini.
Kisahnya dimulai ketika ia pada suatu hari menemukan sesobek kertas di tempat sampah yang telah digambari orang.
Gambarnya adalah sebuah jembatan, di ujung jembatan sebelah kiri
ada tulisannya "manusia", sedang di ujung lainnya ada tulisannya
"Tuhan". Sedang pada jembatan itu sendiri ada tulisan "Yesus".
Kertas itu lalu dibawanya pulang dan direnungkan di rumah apa arti
gambar dan tulisan itu. Setelah beberapa hari merenung ia mencoba
mengartikan sendiri gambar itu begini:
Manusia yang ingin mencari Tuhan itu harus melalui sebuah jembatan,
dan jembatannya itu sendiri adalah Yesus. Atau dengan kata lain
Yesus adalah jembatan atau perantara antara manusia dengan Tuhan,
tanpa melalui Yesus manusia tak mungkin menemukan Tuhan.
Pada saat itu ia memang mengaku beragama Islam, tetapi ia tak
pernah berdoa secara Islam maupun pergi ke Masjid. Jadi praktis,
sebenarnya ia belum memeluk agama tertentu secara sungguh-sungguh.
Oleh karena itu ia ingin menemukan jembatan Yesus ini di Gereja
Kristen. Maksud hatinya untuk memeluk agama Kristen itu diutarakan pada isterinya, dan ternyata isterinya pun tak keberatan
untuk juga ikut memeluk agama Kristen. Maka ia bersama seluruh
keluarganya akan mencari gereja yang ada di Blitar dan masuk di
dalamnya. Maksud hatinya itu akan dilaksanakan pada suatu Hari
Natal, karena kata orang hari itu adalah Hari Besar agama Kristen.
Tepat pada Hari Natal tanggal 25 Desember, pagi-pagi sekali
ia dan isteri serta ketiga anaknya sudah berpakaian rapi dan bagus
untuk mencari gereja. Gereja Kristen yang ditemuinya pertama kali,
ternyata pagi itu masih sepi-sepi saja dan pintunya belum dibuka.
Demikian juga gereja Kristen yang lain sama saja, sepi-sepi saja tak
ada orangnya. Namun setelah mendatangi Gereja Katolik yang
berada di Jalan Cempaka Blitar, gereja itu tiba-tiba dibuka oleh
orang (mungkin koster), ketika ia tiba di depannya. Ia tidak segera
masuk, tetapi menunggu orang-orang lain masuk ke dalam, karena ia
dan keluarganya akan mengikutinya dari belakang. Ketika sudah ada
beberapa orang memasuki Gereja maka ia dan keluarganya masuk
juga ke dalam dengan mengikuti sepasang suami-isteri di depannya,
duduk di bangku tengah. Pak Marno sudah memberi tahu isteri dan
anaknya, agar meniru apa saja yang dilakukan orang yang ada di
dalam gereja itu. Di dalam Gereja mereka meniru tingkah orang yang
ada di depannya, masuk, berlutut dahulu menghadap altar sebelum
duduk, membuat tanda salib, duduk, berlutut lagi menirukan sikap
berdoa dan sebagainya. Ketika Misa dimulai mereka pun mengikuti
apa saja yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Misalnya berdiri,
berlutut, pura-pura ikut menyanyi, menyalami kiri-kanan ketika ada
salam damai dan ikut antri menyambut komuni. Untuk menyambut
komuni pun ia menirukan apa yang dilakukan orang yang ada di
depannya. Hari itu ia dan seluruh keluarganya pulang dengan rasa
puas dan bahagia mengalami peristiwa yang sangat indah di dalam
Gereja Katolik. Demikianlah setiap hari Minggu ia bersama seluruh
keluarganya, selalu pergi ke Gereja Katolik dan melakukan
perbuatan yang sama dan juga selalu menyambut komuni.
Di kampungnya Pak Marno adalah Kepala RT.
Lama-kelamaan para tetangga kiri kanan pun mengetahui bahwa Pak
Marno dengan seluruh keluarganya selalu pergi ke Gereja setiap hari Minggu. Beberapa di antaranya bertanya kepada Pak Marno, mengenai apa, mengapa dan bagaimana agama Katolik itu.
Pada kesempatan itu Pak Marno berceritera tentang bagaimana
indahnya mengikuti Misa di Gereja Katolik dan mengajak mereka
untuk melihat Misa bersama dia di hari Minggu berikutnya.
Mula-mula ada seorang yang mengikuti Pak Marno melihat Misa dan
melakukan juga apa yang dilakukan Pak Marno di dalam Gereja,
termasuk di antaranya menyambut komuni. Lama-lama yang ikut
bertambah lagi, sehingga akhirnya ada lima pasang suami isteri
tetangga Pak Marno yang ikut ke Gereja dan menyambut komuni di
sana.
Sampai pada suatu hari Pak Catur, seorang Katekis Paroki
Blitar, membeli rokok di kios kaki lima. Ia sempat omong-omong
dengan seorang bapak penjualnya.
"Rasa-rasanya saya kok pernah melihat Bapak, di mana ya?"
kata Pak Catur sambil berpikir-pikir. "Apa mungkin di dalam Gereja?"
"Ya...."jawab Bapak itu dari dalam kiosnya, "Setiap Minggu saya pergi ke Gereja Katolik di Jalan Cempaka"
"Jadi Bapak ini Katolik, ya"
Penjual rokok itu hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
"Apakah Bapak sudah dibaptis?" tanya Pak Catur.
"Baptis itu apa?" tanyanya serius
"Itu lho..., sewaktu kepala Bapak dituangi air oleh Romo."
"Oh kalau itu belum" jawabnya kalem.
"Lalu..., apakah Bapak juga menyambut komuni jika pergi ke Gereja?"
"Apa? Kon muni? Saya nggak ngerti lagi itu"
"Komuni! Itu lho..., antri ke depan lalu diberi roti kecil oleh Romo" Pak Catur menjelaskan.
"Oh...ya...benar....saya selalu ikut antri ke depan menerima roti kecil itu"
"Celaka...!" kata Pak Catur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi Bapak ikut menerima roti itu setiap Minggu"
"Benar..... ada apa to...?" tanya Bapak itu keheranan melihat kekagetan Pak Catur.
"Wah....nggak boleh...! Orang baru boleh menerima roti itu kalau sudah dibaptis." Pak Catur menjelaskan lagi.
"Oh....gitu to..., lha nggak ngerti kok" jawabnya kalem saja.
"Selain Bapak apa juga ada orang lain yang belum dibaptis, tetapi ikut antri ke depan?" tanya Pak Catur meneliti.
"Wah...banyak..., mungkin ada sepuluh orang."
Sekali lagi Pak Catur menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Siapa yang menyuruh Bapak menerima komuni itu?" tanyanya.
"Pak Marno..., Ketua RT saya...., ia juga selalu pergi ke Gereja setiap Minggu"
"Begini saja...., di mana rumah Bapak?"
"Oh.... ini kebetulan ada KTP saya" katanya sambil menyerahkan KTPnya.
"Saya nanti malam sekitar jam 19.00 akan datang ke rumah Bapak dan mungkin ke rumah Pak Marno Ketua RT itu, boleh kan?" kata nya sambil mencatat alamat penjual rokok yang tertera dalam KTP itu.
"Boleh saja..., saya akan menantikan di rumah nanti"
"Baiklah Pak...., sampai di sini dahulu, nanti kita bicara lagi di rumah Bapak. Terima kasih...! " katanya sambil mengembalikan KTP itu.
"Kembali..., benar lho saya menanti di rumah"
Kemudian itu Pak Catur mengendarai sepeda motornya dan meninggalkan kios rokok itu kembali ke rumahnya.
Setelah Pak Catur bisa menemui orang-orang yang suka makan "roti" di Misa Kudus tanpa baptis itu, di antaranya adalah Pak Marno yang menjadi Ketua RT di situ, maka mereka tak lagi berani menerima komuni setiap mengikuti Misa Kudus. Mereka yang terdiri dari 7 pasang suami isteri dan anak-anaknya yang sudah besar, kemudian mendapatkan pelajaran agama dari Pak Catur.
Mereka berkumpul seminggu sekali di rumah Pak Marno untuk memperoleh pelajaran katekisasi. Setahun kemudian, oleh Romo Bartels CM, mereka yang terdiri dari sekitar 20 orang dibaptis bersama-sama di Gereja Santa Maria Blitar. Sejak itu mereka secara sah dapat menerima Hosti Kudus dan tahu sebenarnya apa artinya
makan "roti" itu.
Pak Marno yang sebelumnya bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan di Blitar, akhirnya diminta oleh Romo untuk menjadi sopir Paroki Santa Maria Blitar, sampai sekarang ini.
Kerinduan akan Kristus, kesederhanaan, dan kerendahan hati bapak bapak itu pantas untuk kita teladani, Tuhan berkarya dan menuntun tangan mereka dalam pencariannya.