Menyembuhkan yang sakit dan membangkitkan yang mati? Semestinya aku ditahbis sewaktu aku berumur 7 th, begitulah ucapan romo Albert E Lauer. Sejak sekolah dasar dia telah memberikan hidupnya kepada Yesus. Dia mencintai misa dan menerima komuni setiap hari. Hingga disekolah menengah atas di St Gregory, Cincinnati, Ohio dia mengerti dan merasakan Roh Kudus dalam dirinya. Sewaktu memasuki bangku kuliah rupanya dia mulai kehilangan iman dan terbawa arus dunia sekuler. Hatiku perlahan-lahan berangkat meninggalkan Tuhan dan aku berdosa mencintai segalanya yang duniawi, kata romo Lauer bernostalgia masa kuliahnya diseminari Bukit St. Maria di bagian barat kota Cincinnati. Aku kehilangan cinta pertamaku (Why2:4). Hatiku kian menjahui Tuhan pada saat aku sekolah dan berlatih untuk melayani Yesus dan menjadi seperti Yesus. Pada tangal 25 Mei 1974, hari itu adalah saat aku berada pada batas keminiman iman dalam seumur hidupku.

Rm. Al Lauer
Lahir 19-08-1947
Ditahbis 25-95-1974
Meninggal 13-10-2002
Hampir 20 tahun Albert Lauer menyiapkan dirinya untuk menjadi imam. Tidak kurang dari 200 imam hari itu menumpangi tangan mereka, tetapi aku tidak merasakan berkat dan rahmat menjadi imam karena aku telah membohongi diri dan hampanya Roh Kudus dari kehidupanku.
Sebagian dari kehancuran imannya terjadi karena suasana revolusi teologi dan modernisme dalam kehidupan beragama di Amerika pada tahun 60 an. Saat-saat yang susah untuk hidup beragama bagi umat Katolik dan juga yang non-Katolik. Salah paham dan tafsiran pribadi sangat menyolok dalam teologi dan liturgi hasil Konsili vatikan II yang disalah artikan di jaman itu.
Kehidupan yang penuh dengan devosi dan doa rosario sehari-hari atau doa-doa marialogi lainnya sewaktu masa kecilku merupakan sesuatu yang berada jauh dimasa laluku. Sewaktu diseminari rupanya aku telah menjadi sepertinya terlalu intelek untuk melakukannya. Seperti pudarnya iman dalam hidupnya, dapat dihitung dengan jari berapa kali dia berdoa rosario dalam tahun pertamanya sebagai seorang imam. Sewaktu menjabat sebagai asisten guru di sekolah menengah atas di Dayton sepertinya adalah masa-masa yang paling buruk dalam hidupku. Aku telah menurunkan posisi dan peran Bunda Maria karena kemalasan dan gaya hidupku yang sekuler. Rumahku tidak lagi berdiri diatas batu karang melainkan diatas pasir. Aku mengalami dipresi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku sedang menjalani kematian walaupun aku masih hidup, suatu kenyataan bagi mereka yang tidak lagi hidup dalam Yesus.
Pada tahun pertama itu aku selalu mengatur acara sekitar dan sekeliling jadwal siaran olahraga di TV daripada jadwal misa. Aku telah ketagihan dan menjadi budak TV dan siaran pertandingan olahraga. Bola basket, softball, rugbi dan boxing telah mendorong pikiran dan kehidupanku semangkin jauh dari Yesus dan Bunda Maria.
bersambung ...