Hari ini, 1 Maret 2006, masa Pra Paskah dimulai, kebetulan saya mendapat tugas membaca untuk Misa Pagi. Sungguh diluar dugaan saya, di pagi yang dingin bersuhu 10 derajat Celcius, banyak sekali yang datang untuk Misa, sebelum mereka memulai harinya di kantor, di sekolah ataupun kuliah.
Misa berjalan sangat khidmat, tenang dan syahdu, homili dari Romo Jose pun terasa sangat menyejukan hati.
Selepas Misa kami berdoa rosario bersama sama dilanjutkan dengan doa Kerahiman dan Novena to Mother of Perpetual Help (Novena kepada Bunda Maria Penolong Abadi). Dalam perjalanan ke kantor setelah Misa, banyak orang yang berlalu lalang dijalan menatap saya "aneh", padahal, saya merasa tidak ada yang aneh dengan saya. Sampai akhirnya sekumpulan turis menanyai saya, "Anda pastilah orang Katholik, ada Abu di kening Anda, ayo, tolong tunjukan dimana ada gereja sekitar sini, kami mau kesana." Oh.... seketika saya mengerti, mungkin orang orang yang berpapasan dengan saya tadi heran, dengan adanya "kotoran" yang menempel dikening saya. Tanpa banyak cakap, saya pun lalu menunjukan Gereja paroki saya pada turis turis itu, sambil memberitahukan bahwa Misa berikutnya dilaksanakan sore hari. Saya pun kembali berjalan menuju kantor. Beberapa orang dibelakang saya berbisik bisik, "Oh, jadi dia orang Katholik."
Seketika dada saya terasa penuh dan sesak. Mereka menyebut saya orang Katholik. Orang Katholik. Ya Tuhan, saya merasa sangat tidak pantas. Saya masih seringkali menyakiti Engkau dengan perbuatan perbuatan dan pikiran pikiran saya. Saya masih sering mengumbar emosi atau marah pada orang disekeliling saya, saya masih seringkali sulit memaafkan kesalahan orang lain. Saya kadang masih membicarakan orang lain. Ya Tuhan, betapa saya tidak pantas. Terkadang saya lupa untuk mengucap terima kasih.
Dan Engkau Tuhan, beratus kali saya datang meminta belas kasihmu, mengakui dosa saya, meminta ini dan itu, Engkau tetap sabar setia dan penuh cinta kasih mendengarkan. Saya merasa malu ya Tuhan, terlalu sering saya meminta, dan rasanya saya tidak pernah memberi sesuatu yang berarti bagiMu.
Rabu Abu, menyisakan perenungan yang cukup menyentak nurani saya. Sudahkah kita benar benar berekonsiliasi dengan Tuhan, berhubungan baik dan berkomunikasi secara baik pula denganNYA, sudahkan kita membersihkan hati kita dari debu debu dosa yang menempel pada diri kita masing masing ? Abu, atau debu, mengingatkan kita dari mana kita berasal, sebuah ketiadaan. Dan cinta kasihNYA membuat kita "ada" didunia saat ini. Dengan cinta kasihNYA dan kerinduanNYA akan kita, Tuhan memanggil kita pulang. PULANG, pulang kepada naungan cintaNYA, pulang dengan membawakan DIA cinta kasih, yang dibungkus rapi oleh kebersihan hati dan jiwa juga ketaatan dalam Iman dan Pengharapan yang tak berkesudahan.