Hari ini aku pergi menghadiri misa requiem seorang Romo Karmelit, yaitu Romo Widodo, O.Carm yang melayani di Gereja Maria Bunda Karmel (MBK), Jakarta. Misa sore itu dipadati oleh banyak umat dan dipimpin langsung oleh Bapak Kardinal Indonesia. Aku menghadiri misa tersebut bersama dengan teman–teman dari legio Maria.
| Aku pun masuk ke dalam ruang pengakuan dan mulai mengaku dosa. Pada saat selesai menyebutkan dosaku, imam tersebut memberikan nasehat yang sangat menyentuh hati, beliau berkata: ¡§Yesus selalu menerima kita apa adanya, Allah mengetahui semua kelemahan kita, namun Ia selalu mencintai kita | |
 |
Misa berjalan dengan khikmat, umat dan imam serta biarawan merasa sedih karena kehilangan seorang figur yang sangat dicintai. Namun disela–sela kesedihan tersebut, terbesit sukacita yang besar, bagi seorang pengikut Kristus sejati kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebab hidup bukannya dihilangkan tapi hanya diubah.
Misa tersebut dipimpin oleh romo–romo yang ¡¥terkenal¡¦ diantaranya ada Kardinal sendiri, romo Yohanes yang tinggal di Lembah Karmel, ada Romo Sixtus dari Malang yang dulu pernah menjadi Romo Paroki di MBK, Vikaris Jendral dll. Hal tersebutlah yang menjadikan saya ingin sekali menyambut komuni yang dikonsekrasikan oleh romo–romo tersebut, padahal daya komuni adalah sama tidak memandang siapa imam yang menkonsekrasinya. Aku sempat berpikir untuk ¡¥nekat¡¦ menyambut komuni tanpa mengaku dosa.
Saat komuni pun akhirnya tiba juga, perasaanku campur aduk antara mau dan tidak menyambut komuni. Teman legio yang duduk disebelah saya akhirnya berkata: ¡§Kamu sambut aja, toh kamu tidak berdosa besar kan? Tidak aborsi atau membunuh kan?¡¨ Aku hanya bisa tertawa mendengarkan kata–katanya, sebab aku tahu persis dosa apa yang telah kulakukan. Aku tak ingin mengotori Tubuh Kristus dengan tangan yang berdosa ini. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menerima Komuni. Dalam hati aku berkata: ¡§Biarlah ini menjadi hukuman karena aku sering berbuat dosa.¡¨ Ada kerinduan yang mendalam untuk menyambut komuni, karena sudah tiga minggu aku menghadiri misa tanpa menerima komuni. Aku merasa sangat tertekan atas dosa yang aku lakukan.
Setelah selesai misa, usai perakan imam, diputarkanlah lagu–lagu gregorian untuk mengiringi pelayat–pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhirnya. Aku pun segera beranjak dari tempat duduk untuk ¡¥memburu¡¦ imam dan meminta sakramen Tobat. Banyak sekali imam saat itu, sampai–sampai aku terkesan memilih–milih imam untuk mendengarkan pengakuan. Tapi akhirnya aku berdoa dalam hati, siapapun imam itu dialah wakil Kristus. Akhirnya akupun mendapatkan seorang imam yang tak saya kenal yang mau memberikan sakramen.
Aku pun masuk ke dalam ruang pengakuan dan mulai mengaku dosa. Pada saat selesai menyebutkan dosaku, imam tersebut memberikan nasehat yang sangat menyentuh hati, beliau berkata: ¡§Yesus selalu menerima kita apa adanya, Allah mengetahui semua kelemahan kita, namun Ia selalu mencintai kita. Maka dari itu kita sendiri harus berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah yakni dengan banyak berdoa dan membaca Kitab Suci.¡¨
Pada saat keluar dari ruang pengakuan dan memulai penintensi, mengalunlah lagu ¡§Tantum Ergo¡¨, lagu penghormatan bagi Sakramen MahaKudus yang sangat kurindukan. Ada persaan haru dan sesal yang kuat. Aku juga sangat bersyukur kepada Tuhan atas segala pengampunan yang selalu diberikanNya.
Masih terngiang–ngiang perkataan Romo Widodo sewaktu aku mengaku dosa dulu: ¡§Inti dari sakramen Tobat adalah agar kita merubah diri dan menjadi semakin baik lagi di hadapan Tuhan.
Terimakasih Romo, sewaktu engkau masih hidup engkau mendengarkan pengakuanku, bahkan waktu meninggal pun engkau menjadi perantaraanku dalam mendapatkan sakramen Tobat. Semoga jiwamu diterima disisi Tuhan dan segala dosamu diampuni. Doakanlah kami semua dari surga. Amin