REFLEKSI PERJALANAN IMAN HIDUP
BERKELUARGA
“Karena seturut Rencana Allah keluarga telah ditetapkan
sebagai ‘persekutuan mesra kehidupan dan
cintakasih’, maka keluarga mengemban misi untuk makin mencapai jatidirinya;
yakni: suatu persekutuan kehidupan dan cintakasih, melalui usaha – seperti
segala sesuatu yang diciptakan dan ditebus – akan mencapai pemenuhannya dalam
Kerajaan Allah. Sambil merefleksikan itu hingga pada urat-akarnya, kita harus
mengatakan, bahwa hakekat dan peranan keluarga pada intinya dikonkretkan oleh
cinta kasih. Oleh karena itu keluarga mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta
menyalurkan cintakasih. Dan cintakasih itu merupakan pantulan hidup serta
partisipasi nyata dalam cintakasih Allah terhadap umat manusia, begitu pula
cintakasih Kristus Tuhan terhadap Gereja
MempelaiNya.
Setiap tugas khusus keluarga menjadi ungkapan dan
realisasi konkret perutusan yang mendasar itu. Maka kita wajib menggali kekayaan
istimewa misi keluarga serta mendalami isinya, yang beraneka- ragam dan
sekaligus terpadu.
Begitulah bertolak pada cintakasih dan dengan selalu
merujuk kepadanya, Sinode terakhir menekankan empat tugas umum bagi
keluarga:
1) membentuk persekutuan
pribadi-pribadi
2) mengabdi kepada
kehidupan
3) ikut serta dalam pengembangan
masyarakat
4) berperanserta dalam kehidupan
dan misi Gereja”
(Paus Yohanes Paulus II:Anjuran Apostolik
“Familiaris Consortio”/Keluarga, 22 November 1981 no 17)
1. Membentuk persekutuan
pribadi-pribadi
1.1.Cintakasih sebagai prinsip dan kekuatan
persekutuan suami-isteri yang tak
terceraikan
Dasar persekutuan hidup bersama suami-isteri
adalah cintakasih, bukan harta atau tubuh, pangkat, kedudukan, jabatan atau
hobby dst.. Maka persekutuan suami-isteri antara lain ditandai dengan saling
mengenakan cincin pernikahan; cincin bulat, tiada ujung pangkal, awal dan akhir,
melambangkan cintakasih yang tak terbatas dan seutuhnya. Maka suami-isteri
berjanji setia untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun
malang sampai mati alias tidak akan
bercerai. Cintakasih juga tidak diketahui awalnya karena cintakasih itu berasal
dari Allah, dengan kata lain yang mempertemukan atau menyatukan suami-isteri
adalah Allah sendiri, maka Yesus bersabda : “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan
satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia." (Mat 19:6).
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan, suami
dan isteri menjadi daya tarik untuk saling bersatu dan mengasihi. Hendaknya
perbedaan ini tidak hanya dipahami secara phisik melulu: alat kelamin, wajah,
dst., tetapi juga aneka perbedaan yang lain seperti hati, jiwa dan akal budi
juga menjadi daya tarik untuk semakin bersatu dan mengasihi. Perbedaan yang ada
di antara kita merupakan karya ciptaan Allah alias anugerah Allah. Bukankah
jutaan atau milyardan manusia di dunia ini tidak ada yang sama persis atau
identik, meskipun mereka kembar? Bahkan anggota tubuh kita yang berpasangan juga
tidak sama persis , misalnya: daun telinga, mata, lobang hidung, buah dada dan
buah pelir (kalau tidak percaya coba ukur sendiri!?). Maka ketika muncul
perbedaan kata, cara bertindak, selera dst..hendaknya tidak menjadi awal
perpecahan melainkan awal membangun persekutuan atau kebersamaan. Memang apa
yang berbeda dapat menjadi masalah, tetapi ingatlah bahwa apa yang disebut
dengan masalah merupakan sesuatu yang menggerakkan atau menghidupkan kita untuk
bertindak atau melakukan sesuatu pula.
Masalah-masalah yang muncul dalam hidup
bersama/berdua merupakan kesempatan untuk semakin mengasihi atau memperdalam
kasih. Apa itu kasih? “Kasih itu sabar;
kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak
sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri
sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak
bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu Kasih tidak berkesudahan;
nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. ”
(1Kor 13:4-8)
1.2.“Persekutuan suami-isteri” yang melahirkan
kehidupan
Cincin yang bulat melambangkan cintakasih
yang bulat alias seutuhnya dan diharapkan suami-isteri sungguh saling mengasihi
seutuhnya “dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap
kekuatanmu.”(Mrk 10:13), sehingga
suami isteri menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan sekekuatan atau setubuh
(bersetubuh). Persetubuhan merupakan bahasa kasih alias perwujudan saling
mengasihi tanpa batas (dalam saling ketelanjangan). “Keduanya telanjang, manusia dan isterinya
itu, tetapi mereka tidak merasa malu”(Kej 2:25) Bukankah
saling telanjang berdua menunjukkan bahwa relasih kasih suami-isteri sungguh
bebas, terbuka dan seutuhnya? Dari
persetubuhan suami-isteri sebagai perwujudan saling mengasihi atau kasih bertemu
kasih ada kemungkinan tumbuh manusia baru atau anak yang tidak lain adalah buah
kasih, kehidupan baru yang membahagiakan, menjanjikan penuh harapan, maka
disambut dengan ceria, bahagia. Karena kasih atau kehidupan baru tersebut
merupakan anugerah Allah alais hadiah/anugerah atau kado dari Allah, maka
selayaknya ia kita layani atau abdi sebaik mungkin.
2. Mengabdi kepada
kehidupan
2.1.Partisipasi dalam karya penciptaan
Allah
Dengan hubungan seksual sebagai perwujudan kasih
yang memungkinkan kelahiran seorang anak,
suami-isteri berarti berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. "Beranakcuculah dan bertambah banyak;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej
1:28). Menciptakan berarti bergairah dan penuh harapan, maka hendaknya
suami-isteri senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat, bergairah, gembira dan
penuh harapan. Bukankah jika kita dalam keadaan stress atau tertekan,
lebih-lebih bagi perempuan kemungkinan untuk hamil kecil atau dapat terjadi
keguguran kandungan? Kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus Kristus,
Pewarta Gembira, maka selayaknya kita senantiasa bergembira.
Pada masa kini partisipasi dalam karya
penciptaan Allah merupakan bentuk “Pro
Life Movement” (Gerakan Penyayang Kehidupan) alias anti aneka macam bentuk
pengguguran kandungan atau aborsi maupun aneka bentuk penghalang kehamilan yang
bertentangan dengan kehendak Tuhan. Bagi suami-isteri hal ini antara lain
berarti: (1) hubungan seksual sungguh merupakan perwujudan kasih bukan sekedar
mengikuti gairah seksual belaka, dan (2) terbuka kemungkinan terjadi pembuahan
dalam hubungan seksual, yang melahirkan seorang anak. Dengan kata lain
suami-isteri Katolik selain menghayati diri anti aborsi, juga dipanggil untuk
mewartakan Gerakan Penyayang Kehidupan atau memberantas gerakan dan tindakan
aborsi.
2.2.Pendidikan
anak
Anak sebagai anugerah Tuhan harus dididik,
dikembangkan atau dirawat/dipelihara sesuai dengan kehendak Tuhan. Anak
diciptakan, diadakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, dan hanya
dalam dan oleh kasih juga anak dapat tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki
oleh Tuhan. Cintakasih itu bebas alias tidak terbatas, sebaliknya kebebasan
dibatasi oleh cintakasih, dengan kata lain kita dapat bertindak apapun asal
tidak berlawanan dengan atau melanggar cintakasih. Cintakasih yang benar antara
lain senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, maka
segala bentuk pelecehan atau perendahan harkat martabat manusia berlawanan
dengan cinta kasih dan tidak bebas lagi. Karena masing-masing dari kita
diadakan, diciptakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih dan karena
kita adalah warta gembira yang selalu gembira, demikian pula dalam mendidik dan
mendampingi anak juga harus dalam kegembiraan, itulah cintakasih dan kebebasan,
bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Dalam mendidik anak agar menjadi cerdas atau
berprestasi, berikut saya kutipkan duabelas hukum Rimm, kiranya dapat menjadi
bantuan untuk mawas diri:
“Hukum Rimm tentang
Prestasi:
- Anak-anak lebih cenderung berprestasi jika para orangtua
mereka bekerja sama dalam memberi pesan yang jelas dan positif yang seragam
tentang bagaimana seharusnya mereka belajar dan apa harapan-harapan orangtuanya
terhadap mereka.
- Anak-anak dapat mempelajari perilaku yang baik dan pantas
dengan lebih mudah jika mereka memiliki teladan-teladan efektif untuk
ditiru
- Pendapat yang dikatakan oleh orang-orang dewasa kepada
satu sama lain tentang seorang anak yang didengar oleh anak itu, sangat
berdampak pada perilaku dan cara anak itu memandang
dirinya.
- Jika orangtua memberi reaksi berlebihan terhadap
keberhasilan dan kegagalan anak-anaknya, anak-anak itu akan cenderung mengalami
tekanan batian yang kuat karena mereka berusaha mati-matian untuk berhasil.
Mereka juga akan mengalami keputusasaan dan kekecewaan jika mengalami
kegagalan.
- Anak-anak merasakan lebih banyak ketegangan sewaktu
mereka mengkhawatirkan pekerjaan daripada saat mereka melakukan pekerjaan
itu.
- Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri melalui suatu
proses
- Kekurangan dan kelebihan sering menunjukkan gejala-gejala
yang sama
- Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan rasa
penguasaan diri internal jika mereka diberi wewenang, dalam porsi yang lambat
laun semakin besar, selama mereka menunjukkan kedewasaan dan
tanggungjawab.
- Anak-anak akan menjadi pemberontak jika satu orang dewasa
bergabung dengan mereka melawan seorang orang tua atau guru, karena hal itu
membuat mereka merasa lebih berkuasa dari orang
dewasa.
- Orang-orang dewasa seharusnya menghindari konfrontasi
dengan anak-anak kecuali jika mereka cukup yakin dapat menguasai
akibatnya.
- Anak-anak akan berprestasi hanya jika mereka mau ikut
serta dalam kompetisi.
- Biasanya anak-anak akan terus berprestasi
jika mereka melihat hubungan antara proses belajar dan hasil-hasilnya”
(Dr.Sylvia Rimm, Mengapa Anak Pintar Memperoleh Nilai Buruk, PT Grasindo
Jakarta 1997, hal xxi-xxii).
3. Ikut serta dalam pengembangan
masyarakat
3.1.Keluarga sebagai sel pertama dan vital bagi
masyarakat
Keluarga sungguh menjadi sel pertama atau basis
bagi kehidupan bersama di tingkat yang lebih luas dan besar seperti masyarakat.
Pengalaman hidup dalam keluarga atau apa yang diperoleh di dalam keluarga akan
menjadi bekal perjalanan hidup di masyarakat: relasi orangtua dan anak, relasi
kakak dan adik, relasi anggota keluarga dan pembantu rumah tangga dan relasi
dengan teman-teman sepermainan. Bagaimana pengalaman anak berrelasi dengan
orangtua akan menentukan atau mempengaruhi relasi mereka dengan atasan, relasi
dengan kakak/adik akan mempengaruhi relasi dengan rekan kerja senior/yunior,
relasi dengan para pembantu akan mempengaruhi relasi dengan mereka yang miskin,
berkekurangan atau kurang dari pada kita, sedangkan relasi dengan teman
sepermainan akan mempengaruhi hidup bersama atau kerjasama di manapun. Maka
untuk itu penting diperhatikan bagaimana komunikasi yang hidup dan terjadi di
dalam keluarga.
Sarana-prasarana komunikasi berkembang pesat
pada saat ini, tetapi rasanya komunikasi antar pribadi yang saling mengasihi
dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/kekuatan semakin pudar. Suasana
atau mental bisnis, efisiensi, telah mempengaruhi hidup bersama termasuk hidup
berkeluarga. Komunikasi yang terjadi memang efisien tetapi tidak efektif.
Komunikasi antar kita hendaknya efisien dan efektif, artinya berkualitas
mempengaruhi yang berkomunikasi untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi yang
cerdas beriman. Komunikasi yang demikian memang membutuhkan waktu dan tenaga
alias kehadiran secara phisik, maka baiklah di dalam keluarga disediakan waktu
khusus untuk saling bertemu, berrekreasi, makan bersama, doa bersama dst..
3.2. Keluarga sebagai ‘pewarta Kabar Gembira”
Suami-isteri katolik ketika mengawali hidup
berkeluarga antara lain berjanji untuk “menjadi ayah atau ibu yang baik bagi
anak-anak yang dipercayakan kepada kita, dan mendidik mereka menjadi murid Yesus
Kristus yang setia”, dengan kata lain ingin menjadi keluarga sebagai
‘pewarta Kabar Gembira’. Maka bina iman di dalam keluarga, entah bagi
suami-isteri sendiri maupun anak-anak perlu memperoleh perhatian yang memadai.
Tanda bahwa keluarga dapat menjadi ‘pewarta Kabar Gembira’ antara lain apa yang
terdengar atau tersiarkan dari keluarga adalah apa-apa yang baik; dan apa yang
disebut baik senantiasa berlaku umum atau universal. Anak-anak diharapkan juga
tumbuh berkembang lebih baik daripada orangtuanya.
Salah satu buah keluarga yang baik antara
lain anak-anak tumbuh berkembang menjadi kader-kader dalam hidup bersama,
bermasyarakat maupun menggereja. Seorang kader berarti orang yang fungsional
menyelamatkan bagi lingkungan hidupnya dan yang bersangkutan senantiasa ‘survival’ dalam segala cuaca dan
keadaan. Seorang kader berfungsi bagi lingkungan hidupnya bukan karena dukungan
orang lain atau rekomendasi orang yang berpengaruh, melainkan karena dirinya
sungguh bermutu sebagai pribadi atau ciptaan Tuhan alias cerdas beriman. Jika ia
tidak difungsikan maka ia akan ‘merebut’ fungsi dengan kehadiran dan cara hidup
atau cara bertindaknya. Maka baiklah
anak-anak sedini mungkin difungsikan dalam kehidupan bersama di dalam keluarga:
diberi peran dalam kehidupan dan demi kebahagiaan/kesejahteraan keluarga sesuai
dengan tingkat perkembangan dan kemampuannya. Keluarga sungguh menjadi ‘pewarta
Kabar Gembira’ ketika anggota keluarga sungguh fungsional bagi keselamatan
lingkungannya, anak-anak tumbuh berkembang menjadi kader hidup bersama, dan
kiranya juga ada yang terpanggil secara khusus untuk menjadi imam, bruder atau
suster.
4. Berperansetra dalam kehidupan dan misi
Gereja
4.1.Selain menjadi sel pertama dan vital bagi
masyarakat, keluarga juga menjadi sel pertama dan vital dalam kehidupan Gereja,
maka keluarga sering disebut sebagai “Gereja mini” atau ‘miniatur Gereja’,
apalagi jika seluruh anggota keluarga sama-sama beragama katolik. Maka baiklah
disadari dan dihayati bahwa relasi atau komunikasi antar anggota keluarga
merupakan komunikasi iman dan kiranya di dalam keluarga perlu juga
diselenggarakan kegiatan doa atau pendalaman iman bersama. Saya sendiri sangat
terkesan ketika diminta memberkati rumah baru, ternyata pemilik rumah juga
membangun kamar atau ruang khusus untuk berdoa, dimana di kamar tersebut ada
altar/meja kecil, salib, patung Bunda Maria dan Hati Yesus Yang Mahakudus. Tanpa
saya bertanya si pemilik rumah sendiri berceritera bahwa sengaja membangun kamar
khusus yang dapat digunakan untuk doa pribadi/meditasi atau doa bersama dalam
keluarga. Tentu saja doa bersama juga dapat dilakukan dalam tempat biasa seperti
kamar makan, misalnya sehari/seminggu sekali diadakan acara makan bersama dan
selesai makan kemudian disusul doa bersama; doa sebelum dan sesudah makan
dipimpin secara bergantian oleh anggota-anggota keluarga. Di samping kegiatan
liturgis ini kiranya juga penting di dalam keluarga sering diselenggarakan
pendalaman iman antara lain sharing pengalaman hidup atau pembacaan kitab suci
bersama.
4.2.
Keluarga juga diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan misi atau tugas perutusan
Gereja, yang melanjutkan tugas perutusan para rasul dari Yesus :”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di
sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat
28:18-20)
4.2.1.“Jadikanlah semua bangsa muridKu”.
Menjadi murid Yesus berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus alias menghayati
sabda-sabdaNya serta meneladan cara bertindakNya. Salah satu cara bertindak yang
mungkin baik menjadi teladan kita masa kini antara lain: “memberi makan yang kelaparan, memberi minum
yang kehausan, memberi tumpangan pada
orang asing, memberi pakaian yang
telanjang, melawat atau mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang berada dalam
penjara” (lihat Mat 25:35-36)
4.2.2.“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus”
Dibaptis berarti dibersihkan atau disisihkan
seutuhnya bagi Tuhan, maka membaptis berarti menyisihkan seutuhnya kepada Tuhan.
Kita semua diciptakan dan dikasihi oleh Tuhan, dan karena dosa dan kelemahan
kita menjauh dari Tuhan. Menyisihkan diri kita dan sesama serta ciptaan lainnya
bagi Tuhan antara: mengelola atau mengurus hal-ikhwal atau seluk-beluk dunia ini
dijiwai oleh iman kita pada Yesus Kristus, menyehatkan aneka aturan, kebijakan,
struktur hidup bersama yang merangsang ke perilaku dosa dst.. sehingga kita
sendiri dan sesama kita memiliki budaya Tuhan Yesus: cara melihat, cara
berpikir, cara merasa, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara
Yesus.
4.2.3.“Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu
yang telah Kuperintahkan kepadamu”
Perintah utama dan pertama dari Yesus adalah
‘saling mengasihi’, maka kita semua dipanggil untuk senantiasa hidup saling
mengasihi serta mengingatkan orang lain atau sesama kita untuk menyadari dan
menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ dan kemudian saling mengasihi satu sama
lain. “Sekalipun aku membagi-bagikan
segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi
jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku”
(1Kor 13:3)
5. Sekelumit perihal
komunikasi.
Sarana-prasarana komunikasi berkembang pesat: HP,
internet, TV, dll, yang memudahkan orang untuk saling berkomunikasi secara
efisien dan efektif. Namun sayang bahwa komunikasi tersebut lebih bersifat
dangkal, dalam arti terjadi pada tingkat phisik dan belum sampai ke tingkat
spiritual atau bahkan hanya sebatas tingkat phisik saja seperti bisnis dll..
Komunikasi pada tingkat spiritual mengalami erosi terus menerus.
Cintakasih yang menyatukan laki-laki dan perempuan
menjadi suami-isteri yang saling mengasihi sangat dipengaruhi oleh kwalitas
komunikasi antar pasangan yang bersangkutan. Ingat bahwa Yesus mengajarkan
kepada kita agar mengasihi dengan segenap
hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh, dengan
kata lain komunikasi antar suami-isteri yang saling mengasihi harus melibatkan
hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga sepenuhnya atau seutuhnya. Empat unsur
tersebut, hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga tidak dapat dipisah-pisahkan
dan hanya dapat dibedakan dalam rangka saling mengasihi. Jika orang
memisah-misahkan unsur tersebut atau tidak tidak menghayati sepenuhnya keempat
unsur tersebut, maka sebenarnya yang bersangkutan tidak dapat mengasihi. Tidak
sepenuh hati berarti sakit hati, tidak sepenuh jiwa berarti sakit jiwa, tidak
sepenuh akal budi berarti ‘bodoh’ dan tidak sepenuh tenaga/tubuh berarti ‘sakit’
atau lemas.
Kata komunikasi berasal dari kata bahasa Latin communicare yang antara lain berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan
sebagian kepada seseorang, bertukaran/tukar-menukar, memiliki bersama, mempunyai
sesuatu yang sama dengan seseorang, ikut mempunyai bagian dalam sesuatu dengan
seseorang. Dari berbagai arti di atas kiranya dapat kita pahami bahwa dalam
berkomunikasi terjadi saling memberi dan menerima; berkomunikasi dalam kasih
berarti saling memberi dan menerima
(isi)hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga. Karena laki-laki dan perempuan
diciptakan oleh Allah sebagai yang sepadan (lihat Kej 2:20), dan dengan demikian
laki-laki dapat berkata kepada perempuan (suami kepada isteri):”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging
dari dagingku”(Kej 2;23), maka laki-laki dan perempuan, lebih-lebih yang
menjadi suami-isteri, “berdiri sama
tinggi, duduk sama rendah”, tidak ada yang di atas dan tidak ada yang di
bawah. Begitulah hendaknya yang terjadi dalam berkomunikasi atau dalam saling
mengasihi antar suami-isteri.
Secara secara praksis sosial kemasyarakatan
kita kenal adanya ‘kepala keluarga’, entah patriarchal atau matriarchal, sehingga terjadi perbedaan.
Namun hendaknya perbedaan yang ada dihayati sebagai yang fungsional, artinya
berfungsi untuk semakin saling mengasihi. Ingat laki-laki dan perempuan berbeda
satu sama lain (tubuh, sifat dst..) dan karena berbeda maka saling tertarik,
mendekat dan saling mengasihi. Perbedaan memang dapat menjadi masalah, tetapi
ingat bahwa apa yang disebut masalah adalah sesuatu yang menggerakkan atau
memotivasi kita untuk bertindak atau mengerjakan sesuatu. Maka baiklah ketika
ada perbedaan antar suami-isteri, entah dalam hal hati, jiwa, akal budi atau
tubuh, hendaknya dihayati sebagai ‘jalan’ atau ‘wahana’ untuk saling
berkomunikasi, saling mendekat dan saling mengasihi dengan saling memberi dan
menerima hati, jiwa, akal budi dan tubuh secara lebih penuh atau utuh. Karena
‘dia, tulang dari tulangku dan dagin dari
dagingku’, maka laki-laki dan perempuan atau suami-isteri, yang sungguh
berbeda satu sama lain, yang saling mengasihi lambat laun laki-laki dan
perempuan yang berbeda tersebut tumbuh berkembang bagaikan ‘manusia kembar’. (catatan: silahkan anda bercermin bersama
dalam satu cermin dan pandanglah wajah anda berdua..jika semakin nampak bagaikan
manusia kembar berarti anda sungguh saling mengasihi dan berkomukasi dengan
benar dan baik).
Ign.Sumarya SJ