Renungan Adorasi 4 April (Imamat Umum Kaum Beriman)

Kirim Ke Printer E-mail Artikel ini ke Teman


Imam Agung kita Yesus Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban sekali untuk selamanya di Salib saat Ia sendiri bertindak sebagai Imam, Altar dan Kurban (Cfr. Ibr10:10; Pref. Paskah Kristus Imam dan Kurban), dan sebagai satu-satunya Imam dari Perjanjian Baru dan Kekal Ia menghendaki agar mereka yang telah dikuduskan-Nya juga mengambil bagian dalam Imamat-Nya yang satu itu.

            Kitab Suci berkata, ” Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya- dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi Imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya,- bagi Dialah kemuliaan dan kuasa selama-lamanya” (cfr.Why1:5-6). Dan dengan jalan ini ia telah menguduskan kita semua yang percaya kepada-Nya menjadi Imam-imam bagi Allah. Sejalan dengan Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik mengajar kita bahwa semua orang beriman adalah Imam dan bahwa ada 2 cara bagi Gereja untuk berpartisipasi dalam Imamat Kristus yang satu itu. Yaitu melalui imamat umum kaum beriman yang diterima melalui Sakramen Baptis dan Krisma serta Imamat Jabatan yang secara khusus diteruskan melalui Sakramen Imamat(cfr. KGK no.1546-1547).

            Kita tidak akan membahas jauh tentang Imamat Jabatan, mengingat bahwa hampir semua orang Katolik sudah tahu mengenai Imamat ini yang secara nyata dapat kita lihat pada para Uskup dan Imam. Kita akan lebih banyak membicarakan Imamat umum kaum beriman. Namun pertama-tama, kita akan melihat lebih dahulu apakah tugas seorang Imam itu? Tugas utama seorang Imam adalah mempersembahkan kurban kepada Allah. Tanpa kurban tidak ada Imam, dalam Perjanjian Lama kurban itu ialah binatang yang dipersembahkan kepada Allah oleh para Imam keturunan Harun dalam berbagai upacara keagamaan seturut Hukum Lama, dalam Perjanjian Baru hanya ada satu kurban dan satu Imam yaitu Kristus sendiri. Para Imam dengan bertindak ‘dalam pribadi Kristus’ (in personae christi) menghadirkan kembali kurban Kristus yang satu itu dan dalam nama-Nya juga mereka mempersembahkan-Nya kepada Bapa dalam Perayaan Ekaristi..

            Bagaimana dengan kita? Sebagai awam, mengingat imamat kita dengan jalan apakah kita mengambil bagian dalam persembahan kurban Kristus itu? Kitab Suci memberi jawab kepada kita, “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.(cfr.Rom12:1)”. Pesan St. Paulus ini dijelaskan dengan sangat baik oleh para Bapa Konsili Vatikan II yang mengatakan, “Sebab semua kegiatan, doa dan karya kerasulan mereka, hidup suami-istri dan berkeluarga, kegiatan sehari-hari mereka, penghiburan jiwa dan raga-asal dilakukan dalam Roh Kudus- menjadi persembahan rohani, yang berkenan kepada Allah dengan perantaraan Yesus Kristus (cfr.1Pet2:5). Demikian pula kepahitan kehidupan, asal ditanggung dengan sabar. Dalam Perayaan Ekaristi semuanya ini dipersembahakan dengan sangat khidmat dengan persembahan Tubuh Kristus kepada Bapa. Demikianlah juga para awam sebagai penyembah, yang bertindak kudus dimana saja, mempersembahkan dunia ini kepada Allah (cfr.Lumen Gentium art 34)”.

            Apa yang dikatakan Konsili ini cukup jelas ialah bahwa semua pekerjaan sehari-hari kita yang dilakukan dengan sadar dalam Roh Kudus dan jika dilakukan dalam kekudusan maka semuanya ini dalam Perayaan Ekaristi dipersatukan dengan kurban Kristus yang dipersembahkan kepada Bapa. Dan sekarang perhatian akan diarahkan kepada kekudusan. Baik St. Paulus maupun para Bapa Konsili Suci menekankan kepada kekudusan agar persembahan kita dapat berkenan kepada Allah. Dan kita semua tahu bahwa seseorang hanya dikatakan kudus bukan hanya karena dirinya tidak bercela melainkan juga karena Ia melaksanakan kehendak Bapa.

            Mengenai hal ini marilah kita berpaling kepada Kristus yang datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya (cfr. Ibr10:9) dan yang selama hidup-Nya telah taat kepada Bapa-Nya sehingga karena kesalehan-Nya Ia didengarkan (cfr. Ibr5:7-8). Imam Agung kita ini selama hidup-Nya telah menunjukkan kesalehan-Nya kepada tidak hanya kepada Bapa-Nya tetapi juga kepada kita. Selama hidup-Nya Ia digodai dan turut merasakan kelemahan manusiawi kita hanya Ia tidak berdosa (cfr. Ibr4:15). Dan Kitab Suci memberi kesaksian kepada kita mengenai betapa Ia taat kepada kehendak Bapa-Nya. Khususnya dalam Liturgi Pekan Suci dimana Kisah Sengsara Kristus akan diwartakan kepada kita oleh Gereja, kita akan melihat betapa Dia taat kepada Bapa-Nya. Maka kita yang percaya kepada Dia, yang kini karena Baptisan juga mengambil bagian dalam Imamat-Nya dari kita juga dituntut suatu ketaatan yang sama. Dan sekalipun “ketaatan” itu kadang tampak mengerikan, namun Kristus yang telah lebih dulu taat akan menguatkan dan menolong kita.

            Tanpa ketaatan maka kita kita tidak dapat mengambil bagian dalam imamat Kristus yang satu. Tanpa itu kita menjauh dari Allah dan bahkan kita kehilangan persatuan dengan-Nya. Maka saat ini marilah kita yang berhimpun di sekitar Kristus dalam Sakramen Mahakudus dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (cfr. Ibr4:16). 

Edisi 30Mar2006 oleh Daniel P

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda


Iklan Oleh SM

Halaman baca dan downloan buk elektronik Katolik

Halaman E-Books SM



Ekaristi Dot Org Forum Katolik Terpopuler

Ekaristi

Renungan Harian, Homili, Les Alkitab Alkitab Online, Dok Vat II, Forum Diskusi dengan Moderator dan Belajar Bersama Apologis



Media Katolik

Media Katolik Indonesia

 Search Engine Katolik Indonesia bantulah keluarga anda untuk menemukan milis-milis yang sehat dan baik untuk dilihat agar tidak sembarang menemukan milis porno dan yg merusak moral.

Iklan Oleh SM


 

© copyrights 2005 Santo Mikael | Login