|
Banyak orang termasuk orang tuanya mengira Emanuel mengalami stres, sakit jiwa, bahkan ada yang mengira dia sudah gila. Emanuel mengalami banyak penampakan Bunda Maria. Maria telah menuntunnya untuk belajar berdoa. Mereka yang tidak mengetahui Allah tidak dapat mengambil keputusan yang baik. Karena itu banyak yang telah mengambil keputusan-keputusan yang salah atas tubuh, jiwa, rohaninya, dalam kehidupan berkeluarga, keadaan hewan, bumi dan alam semesta. Maria mengajarkan mengenai gereja-Nya, dimana Emanuel mendapatkan Kabar Gembira dan kurang dari satu tahun Emanuel telah dibaptis dan menerima sakramen krisma menjadi Katolik.
Emanuel masih tetap menerima pesan-pesan penting dari Yesus mengenai gereja-Nya didunia, terutama mengenai kehidupan sakramental. Yesus mengatakan bahwa sakramen tobat adalah persiapan yang harus terjadi sebelum kedatangan-Nya yang kedua. Yesus memberikan pesan peringatan bagi umat manusia, "Segala yang tidak terlihat akan tampak." Yesus mengatakan bahwa kiamat akan tiba. Bersiaplah selama masih ada waktu. Bila waktunya tiba, roh-roh akan menemukan kembali jasad miliknya, dan mereka akan membawakan surat kehidupan mereka. Jangan sia-siakan waktu untuk berbuat yang baik, waktunya sudah dekat.
Sewaktu Emanuel Segatashya sedang berada bersama Yesus yang terlihat seperti manusia biasa dalam sebuah penampakan. Daya pikir dan intelektualitas Emanuel secara misterius menjadi terbuka dan mengerti Injil dalam konteks sepenuhnya sepertinya dia telah menyelesaikan sekolah teologi. Emanuel telah menjadi pewarta yang penuh semangat dan berhasil. Emanuel telah menyampaikan pesan Yesus kepada romo-romo akan tetapi banyak yang tidak percaya. Sebuah pesan dari banyak lainnya adalah menyangkut kehidupan para romo.
"Romo dan wakil-wakilKu didunia kurang memperhatikan mereka yang sakit jasmani ataupun sakit dalam moral. Bila mereka telah dengan ikhlas memilih untuk hidup selibat, mereka harus taat atas janji mereka. Mereka harus merenungkan baik-baik sebelum mereka mengambil keputusan untuk hidup selibat. Hanya Allah yang mengampuni dosa, dan Allah ingin menggunakan mereka sebagai alat dalam sakramen tobat. Waspadalah atas bahaya dosa kemunafikan, fitnah dan fitnahan yang sangat keji. Dosa-dosa itu adalah perbuatan dosa dan kemaksiatan yang keluar dari mulut. Sewaktu Aku hidup didunia Aku dengan ikhlas menerima untuk hidup miskin dan menderita, kekayaan yang sebenarnya adalah didalam hati."
Emanuel mengalami banyak fitnahan dan telah berkali-kali diusir dari Burundi oleh mereka yang tidak ingin percaya akan tetapi dia berhasil disambut sebagai pewarta dengan baik di Zaire. Emanuel kini masih tetap bersemangat untuk mewartakan kepada mereka yang ingin mendengarnya. Banyak skolar gereja yang mengakui pengetahuan dan kedalaman teologi yang dia tunjukan adalah sangat mantap dan Katolik. Terakhir kali Emanuel mengalami penampakan adalah pada tanggal 3 Juli tahun 1983. Berikut adalah beberapa dari pesan-pesan yang dia terima sewaktu mengalami penampakan-penampakan mengenai Bunda Maria, berdoa, mengenai denominasi lainnya dan mengenai kedatangan Yesus yang kedua.
Mengenai Santa Perawan Maria:
"Bagaimana dapat seorang menyatakan cinta, memuja dan berdoa kepadaKu tetapi dia hidup diluar Bunda-Nya yang Imakulata? BundaKu adalah Bunda dunia."
Mengenai Doa:
"Manusia harus berdoa dengan hati yang tulus dan tanpa hentinya. Janganlah berdoa untuk mendapatkan mujizat karena tidak ada yang akan masuk surga karena mujizat akan tetapi dengan doa yang tulus dari hati. Doa Rosario adalah doa untuk umatKu."
Mengenai denominasi yang ada:
"Berjagalah dan waspadalah akan perpecahan diantaramu. Terimalah Firman Allah dengan cara yang seksama agar kau akan menemui dan berjumpa dengan Allah yang sama."
Mengenai kedatangan-Nya yang kedua:
"Terlalu banyak yang tidak lagi mencintai sesamanya, tidak menghargai, dan tanpa kejujuran ... Dunia penuh dengan kebencian. Kau akan tahu kedatanganKu sudah dekat bila banyak terjadi perang etnis, perang agama dan perang antar suku. Ketahuilah bahwa Aku akan datang."
Kurang dari sepuluh tahun setelah kisah dan kejadian yang dialami Emanuel Segatashya. Rwanda jatuh dalam kekejian perang etnis dan genocide antara suku Tutsi dan pemerintahan Hutu yang menelan korban sebanyak 920 ribu jiwa. Dunia tidak perduli dan hanya dapat menyaksikan kejahatan tsb. Setelah masa tugasnya selesai Presiden Bill Clinton memohon maaf kepada bangsa Rwanda karena tidak datang untuk menghentikan kejadian itu. Diduga karena Clinton takut akan kegagalan yang dapat terjadi seperti yang terjadi saat intervensi AS di Somalia atas kejahatan Mohamad Aidit. Warga Amerika terkejut menyaksikan jasad tentara-tentaranya sewaktu dipamerkan dalam berita TV dengan hina mayat serdadu AS digiring rakyat dan milisia pimpinan Aidit dijalan-jalan kota Mogadishu. Diperkirakan bila saja PBB atau AS sempat mengirimkan 5 ribu pasukan perdamaian maka tidak akan terjadi ethnic cleansing serupa apa yang telah terjadi di Rwanda. Diperkirakan sedikitnya 600 ribu jiwa mungkin dapat diselamatkan. Jatuhnya sekian banyak korban disebabkan pelakunya dapat dengan bebas berbuat kekejian mereka karena keabsenan aparat dan saksi mata HAM dunia luar di Rwanda. Hari ini dunia sekali lagi menoleh wajahnya dari kejadian yang serupa di Darfur, Sudan. Dinas Sosial Katolik yang sedang berada bersama pengungsi Kristen mengatakan bahwa kaum milisia Arab yang didukung pemerintah tengah berbuat hal yang sama seperti di Rwanda. Hollywood akhirnya sampai hati dan telah memproduksi film Hotel Rwanda yang memenangkan beberapa Oskar jauh hari setelah kejadiannya, dengan moto demi perdamaian dan agar menjadi saksi kisah kekejian di Rwanda, rupanya Hollywood benar-benar terlambat atau sengaja terlambat diperjalanan, bagaimana dengan Darfur? Mungkin lima tahun dari sekarang akan ada sebuah film produksi Stephen Spielberg berjudul Darfur The Sequel To Rwanda. Hollywood hanya mampu merayakan kekejian perbuatan di Rwanda dengan film Hotel Rwanda dan kemenangan Oskar film tsb. Sekali lagi dunia menutup matanya. Mat10:12-14
Disunting, komentar dan diterjemahkan oleh Tony.B dari buku "Meetings With Mary" Janice T. Connell. |