Kita sering menemukan perbedaan
dan perdebatan tentang penafsiran alkitab terjadi antara umat beragama, baik
itu antara katolik-protestan, protestan-protestan, kristen – islam (islam
setidaknya mengakui bahwa mereka mengakui Injil dan Taurat, meskipun bagi
mereka kitab-kitab tersebut sudah terkorupsi). Kitab Suci katolik dan protestan
adalah sama, hanya saja berbeda jumlah kitabnya..mengapa bisa terjadi? Apakah
kesamaan alkitab berarti iman katolik adalah sama dengan iman protestan dan
juga islam?tidak juga, lalu mengapa beda? Dan bagaimana kita sebagai orang
katolik menyingkapi ini?...
Belajar dari Sejarah
Pertama kali, kita harus melihat
kembali kepada sejarah keberadaan alkitab itu sendiri, bagaimana proses dari
tidak ada alkitab sampai hari ini kita bisa memegang alkitab yang kita pakai.
Alkitab merupakah terjemahan dari
Bible yang juga berasal dari kata Biblia dalam bahasa Yunani yang berarti
“buku-buku” yang digunakan oleh orang Kristen perdana untuk menunjuk pada tulisan-tulisan
yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.
Bangsa Yahudi, murid Yesus, dan
para rasul memegang kitab-kitab yang berbeda satu sama lainnya dari segi
nama/judul kitab, gaya
bahasa, asal kitab, dan tentu saja isi untuk tujuan/lingkup mengajar yang berbeda.
Setelah kematian Yesus di kayu salib, ada keinginan dari umat Gereja perdana
untuk menyamakan kumpulan kitab yang mereka punyai agar, semua murid Yesus
mempunyai kitab yang sama, dan juga selain itu, untuk menjaga agar murid Yesus
terhindar dari kesesatan, karena pada saat itu terdapat banyak sekali
naskah-naskah sesat yang beredar.
Kanonisasi alkitab dimulai pada
abad pertama dan berakhir pada abad ke-4, dimana dalam kanonisasi tersebut,
naskah-naskah yang ada diteliti oleh Magisterium Gereja apakah itu benar di
inspirasikan oleh Roh Kudus atau hanya merupakan tulisan prosa, palsu, bidat,
dll..Kanonisasi ini ditutup dengan menyatakan bahwa alkitab yang sah untuk
digunakan oleh umat Kristen di seluruh penjuru dunia adalah 73 kitab.
Namun pada saat terjadinya
reformasi oleh kaum Protestan, Martin Luther membuang 7 kitab terakhir dari
alkitab dan mendaftarkannya sebagai bagian dari kitab apokripa, sehingga pada
konsili Trente, Gereja menetapkan kanon sekali lagi untuk menunjukkan bidaah
Martin Luther dan tokoh protestan lainnya yang mengurangi isi alkitab dari 73
menjadi 66 kitab. Tujuh kitab yang dikurangi itu di beri nama Deuterokanonika
dimana Deutero berarti “kedua kali” (bukan kanon kedua), itulah sebabnya umat
protestan memiliki alkitab yang berisi 66 kitab sedangkan katolik dan orthodox
memiliki alkitab dengan 73 kitab.
Otoritas Iman Katolik
Menilai dari sejarah alkitab,
kita dapat melihat bahwa, ke-absahan atau ke-otentikan alkitab dijamin oleh
Magisterium Gereja, jika tidak ada Magisterium Gereja, tentu saja tidak ada
yang dapat menjamin bahwa alkitab tersebut benar-benar merupakan Firman Tuhan!!
Cara pandang dan penafsiran dari
alkitab yang tidak dapat salah tentunya harus dengan bantuan terang Gereja yang
diwariskan kepada kita melalui Tradisi Lisan.
Lalu bagaimana dengan klaim dari
pihak-pihak tertentu bahwa ‘Alkitab
adalah satu-satunya sumber kebenaran
iman’?
Marilah kita sedikit membuka
alkitab dan menyelidiki, apakah benar, alkitab menyatakan bahwa Ia-lah
satu-satunya sumber iman:
Yoh
20:30 Memang masih banyak tanda
lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam
kitab ini,
Yoh 21:25Masih banyak hal-hal lain lagi yang
diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per
satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis
itu.
Jelaslah bahwa alkitab sendiri
tidak menyatakan bahwa Ia-lah satu-satunya sumber kebenaran iman, sebaliknya,
alkitab makin meneguhkan otoritas iman katolik dengan menegaskan:
2 Tes 2:15Sebab itu, berdirilah teguh dan
berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan,
maupun secara tertulis.
King James Version
2 Tes 2:15Therefore, brethren, stand fast,
and hold the traditions which ye
have been taught, whether by word, or
our epistle.
Rasul Paulus menegaskan agar kita
berpegang teguh pada ajaran (tradisi) yang kita terima, baik dari tulisan
maupun lisan, kita tau bahwa yang tulisan pasti adalah kitab suci, lalu
bagaimana dengan yang lisan?? Tentu saja yang dari Yesus diberikan secara turun
menurun dari para Rasul yang dikepalai oleh Petrus sampai ke Paus Benedictus
XVI sekarang.
Oleh karena itu, otoritas iman
kita menjadi jelas yaitu dari Kitab Suci, dan Tradisi yang dijaga oleh
Magisterium Gereja dibawah Paus.
Iman-nya sama?
Meninjau dari
penjelasan-penjelasan sebelumnya, tentunya kita bisa dengan tegas menyimpulkan
bahwa meskipun alkitab yang kita pegang adalah sama dengan alkitab protestan,
tentu saja iman katolik dan protestan adalah tidak sama. Perbedaan yang paling
besar adalah terletak pada bagaimana umat katolik dan protestan menafsirkan isi
alkitab, dimana penafsiran umat katolik akan alkitab berpusat pada terang
pengajaran dari Gereja. Kesatuan ajaran iman dan penafsiran yang berpusat pada
Gereja dibawah kepemimpinan Bapa Paus inilah yang menjaga persatuan dan
keutuhan iman Gereja katolik sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang di
seluruh dunia, dan inilah yang kita akui dalam pengakuan iman setiap kali misa
yaitu: Aku percaya akan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.
Search Engine Katolik Indonesia bantulah keluarga anda untuk menemukan milis-milis yang sehat dan baik untuk dilihat agar tidak sembarang menemukan milis porno dan yg merusak moral.